Entri yang Diunggulkan

GENERASI PENDOBRAK JILID III

 Harian Rakyat Merdeka terbitan 20 April  2010,memuat artikel dengan judul “Bodoh Permanen” yang ditulis oleh Arif Gunawan. Tulisan tersebut...

Tampilkan postingan dengan label nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nasional. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 April 2026

Perpustakaan Nasional Sebagai Gudang Ilmu, Pengetahuan, dan Informasi

 


Gedung Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Sumber: Jurnalposmedia)

   Wartawan senior Karni Iljas dalam suatu acara ILC (Indonesia Lawiers Club) di [ayar TV pernah menyampaikan kata-kata negarawan Amerika Serikat yang sangat menarik menjadi acuan semua bangsa di seluruh muka bumi. Kata-kata itu kurang lebih menyatakan sebagai berikut :”Saya sangat percaya kepada rakyat Amerika Serikat, oleh karena itu berikanlah informasi yang benar kepada rakyat, maka semua persoalan akan bisa diselesaikan dengan baik”. Ada lagi kaitan dengan pesan itu yang juga dinyatakan oleh seorang negarawan Amerika Serikat yang sangat menarik, yaitu kurang lebih :”Kalian bisa memperdayakan sekalian orang hanya sesaat, tidak untuk selamanya”.

       Mungkin karena doktrin itu maka Amerika Serikat bisa jadi negara maju, kaya dan kuat, sehingga mampu berbuat apa saja di dunia ini. Terakhir, sejak tanggal 28 Februari 2026 yang lalu, dengan seenaknya Amerika Serikat bersama Israel menyerang Iran dengan membabibuta, menghancurkan gedung sekolah dan rumah sakit, bahkan menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei (86 tahun). Bahkan sebelumnya, mereka terlibat menggalang demonstrasi besar-besaran dengan tujuan untuk menggulingkan pemimpin Iran tetapi bisa ditumpas oleh aparat keamanan Iran.

       Tanggal 10 Maret 2026 Inews TV menggelar diskusi dengan menampilkan pendukung Iran lawan pendukung koalisi Amerika Serikat – Israel. Masing-masing berbantahan seru dengan mengaku sebagai orang pintar yang ahli baca berbagai buku. Anehnya para mahasiswa yang dihadirkan dalam acara tersebut ada yang bertepuk tangan riuh, entah sebagai tanda mengerti karena juga sudah banyak membaca dari berbagai sumber, atau hanya bisa hanyut dalam retorika pembicara saja. Seharusnya, sepulang diskusi, para pakar nara sumber dan para mahasiswa membuka kembali buku atau literatur yang dimiliki, atau segera pergi ke Perputakaan Nasional atau perpustakaan di manapun untuk membaca banyak buku yang terkait agar tidak sesat berpikir walau pun hanya sebagai penggembira dalam forum diskusi. Oleh karena itu Lembaga sekelas Perpustakaan Nasional wajib tetap menyimpan semua buku, koran, majalah dan bahan bacaan apa saja yang menyangkut berbagai hal yang penting guna menunjang pengembangan serta pengkajian ilmu, pengetahuan dan informasi. Bahkan buku-buku yang dilarang oleh suatu rezim juga harus tetap tersimpan di Perpustakaan Nasional sebagai bahan referensi yang penting dalam membangun bangsa sesuai nasehat negarawan Amerika Serikat di atas. Karena sejarah pasti terulang, maka buku serta bahan bacaan masa lalu jangan ada yang dimusnahkan, harus terus tersimpan dengan baik di Perpustakaan Nasional. Sebagai contoh nyata, ternyata pola Amerika Serikat menguasai dunia terus diamalkan oleh hampir semua rezim Amerika Serikat. Sepertinya, dulu bagaimana Amerika Serikat ingin menguasai tanah Papua yang kaya bahan tambang emas, tembaga dan uranium, harus menjatuhkan Presiden Soekarno dengan pola tipu daya dan adu dombanya. Terakhir, dengan tuduhan pengedar narkoba, Presiden Venezuela Maduro harus dijatuhkan dan Amerika Serikat menguasai sumber minyak Venezuela. Lalu, terhadap Iran juga begitu, masak memilih pemimpinnya sendiri kok harus mendapat persetujuan Amerika Serikat.

       Nah, bangsa Indonesia antaralain harus pandai membaca sejarah bangsa dengan baik, jujur serta cerdas, dan Perpustakaan Nasional adalah tempatnya yang harus menyimpan segala buku dan bahan bacaan yang netral dan bebas tidak terikat oleh siapa rezim dan apa maunya.  Sebagai gudang ilmu, pengetahuan dan informasi, Perpustakaan Nasional yang berdiri megah di jantung Kota Proklamasi Kemerdekaan Jakarta, semoga mampu menyimpan semua buku karya anak bangsa tanpa ada yang ditabukan apalagi dilarang.*****