Bullying
atau perundungan adalah tindakan nakal dan kurang ajar yang dilakukan secara
sengaja dan berulangkali oleh seseorang atau sekelompok orang yang lebih kuat
untuk menyakiti, menindas, mengintimidasi, merendahkan atau mengucilkan
korbannya. Umumnya dilakukan oleh anak usia sekolah karena iri hati, sakit
hati, dendam, kebencian atau sekedar kenakalan. Siswa kelas empat SDN Benjeng
Kabupaten Gresik baru saja pulang usai belajar. Mereka ada yang langsung
pulang, ada yang masih bermain di tanah lapang sekolah yang luas. Sekolah Dasar
tiga lokal yang didirikan pada masa penjajahan Jepang itu, kamar kecil atau WC-nya
tidak berfungsi, sehingga para siswanya kalau berniat membuang hajat buang air
kecil, seperti biasanya cukup berlarian ke semak-semak yang memang sangat luas
di sekeliling gedung sekolah.
Sore itu Aji mencari tempat aman untuk
buang air kecil sembari duduk sesuai ajaran orang-tuanya. Si Aji siswa
terpandai di kelas empat itu sedang asyik meyalurkan hajat buang air seni yang
selama di kelas di tahan-tahan, tiba-tiba tersentak dikagetkan kucuran air dari
belalakang ke badannya. Dan betapa kagetnya, ternyata itu dilakukan oleh
temannya yang bernama Sulkan. “Kenapa kamu ngencingi aku?,”teriak Aji dengan
nada marah. Yang ternyata si Sulkan cuma tertawa meringis sambil meneruskan
hajat kencingnya.
Aji tidak mau berkelahi, dia malah
memanggil Lukman, temannya yang bongsor dan kebetulan ditunjuk sebagai ketua
kelas empat. Aji sehar-hari memang sangat akrab dengan Lukman.
“Lukman…..Lukman……”, teriaknya berkali-kali. Si Lukman yang tanggap lalu berlari
mendekati si Aji. “Ada apa, Ji?”, tanyanya menyelidik. “Aku dikencingi Sulkan,
ini aku basah karena air kencingnya,” jelas Aji mengadu kepada teman akrabnya
itu. “Mana dia, Sulkan…Sulkan…,tunggu!”, perintah Lukman. “Kenapa kamu
ngencingi Aji, salah apa dia?”, hardik Lukman dengan gaya ketua kelas yang
tegas.
Karena jawab Sulkan cuma cengengesan
maka melayanglah bogem mentah si Lukman
mendarat di wajah Sulkan berkali-kali dan teman-temannya sontak
berteriak-teriak. “Dia ngencingi Aji, kurang ajar dia, harus dihajar, hayo
siapa yang mau menghajar anak kurang ajar ini!”, teriak Lukman dengan nada
emosi.
Tiba-tiba Pak Guru Emad yang juga mau
pulang, menghampiri kerumunan anak-anak yang mestinya sudah pada pulang. “Ini
Pak, si Sulkan ngencingi Aji sampai bajunya basah. Harus dikasih pelajaran Pak anak kurang ajar ini!”, jelas Lukman. Dan
ketika ditanya Pak Guru, Sulkan hanya menunduk, menangis, agaknya menahan sakit
karena tonjokan. “Sulkan, kamu minta maaf kepada Aji, dan jangan kamu ulang
lagi ya. Lukman, kamu juga harus minta maaf kepada Sulkan karena kamu telah menghukum
dan menghakimi sendiri teman yang nakal. Tidak boleh begitu caranya, seharusnya
lebih baik kamu laporkan kepada Bapak atau Ibu Guru. Dan kamu Aji, harus cepat
pulang lalu pergi mandi ya”, nasehat Pak Guru Emad kepada mereka sambil mengingatkan
agar sesama teman harus saling menyayangi. “Sudah ya, sekarang pulang semua,
jangan lagi ada yang membuli temannya dengan cara apa pun. Inilah yang namanya membuli
dan semua akan menerima hadiahnya. Sulkan dan siapa saja, jadilah anak yang
baik, sayang teman, rajin beribadah dan rajin belajar!”, pesan Pak Emad lalu
beranjak pulang.*****Bekasi, Maret 2026









