Entri yang Diunggulkan

GENERASI PENDOBRAK JILID III

 Harian Rakyat Merdeka terbitan 20 April  2010,memuat artikel dengan judul “Bodoh Permanen” yang ditulis oleh Arif Gunawan. Tulisan tersebut...

Kamis, 26 Maret 2026

Hadiah Karena Membuli Teman

 



 Pertemanan. (sumber: Pixabay oleh Florendia)

Bullying atau perundungan adalah tindakan nakal dan kurang ajar yang dilakukan secara sengaja dan berulangkali oleh seseorang atau sekelompok orang yang lebih kuat untuk menyakiti, menindas, mengintimidasi, merendahkan atau mengucilkan korbannya. Umumnya dilakukan oleh anak usia sekolah karena iri hati, sakit hati, dendam, kebencian atau sekedar kenakalan. Siswa kelas empat SDN Benjeng Kabupaten Gresik baru saja pulang usai belajar. Mereka ada yang langsung pulang, ada yang masih bermain di tanah lapang sekolah yang luas. Sekolah Dasar tiga lokal yang didirikan pada masa penjajahan Jepang itu, kamar kecil atau WC-nya tidak berfungsi, sehingga para siswanya kalau berniat membuang hajat buang air kecil, seperti biasanya cukup berlarian ke semak-semak yang memang sangat luas di sekeliling gedung sekolah.

       Sore itu Aji mencari tempat aman untuk buang air kecil sembari duduk sesuai ajaran orang-tuanya. Si Aji siswa terpandai di kelas empat itu sedang asyik meyalurkan hajat buang air seni yang selama di kelas di tahan-tahan, tiba-tiba tersentak dikagetkan kucuran air dari belalakang ke badannya. Dan betapa kagetnya, ternyata itu dilakukan oleh temannya yang bernama Sulkan. “Kenapa kamu ngencingi aku?,”teriak Aji dengan nada marah. Yang ternyata si Sulkan cuma tertawa meringis sambil meneruskan hajat kencingnya.

       Aji tidak mau berkelahi, dia malah memanggil Lukman, temannya yang bongsor dan kebetulan ditunjuk sebagai ketua kelas empat. Aji sehar-hari memang sangat akrab dengan Lukman. “Lukman…..Lukman……”, teriaknya berkali-kali. Si Lukman yang tanggap lalu berlari mendekati si Aji. “Ada apa, Ji?”, tanyanya menyelidik. “Aku dikencingi Sulkan, ini aku basah karena air kencingnya,” jelas Aji mengadu kepada teman akrabnya itu. “Mana dia, Sulkan…Sulkan…,tunggu!”, perintah Lukman. “Kenapa kamu ngencingi Aji, salah apa dia?”, hardik Lukman dengan gaya ketua kelas yang tegas.

       Karena jawab Sulkan cuma cengengesan maka melayanglah bogem mentah si Lukman  mendarat di wajah Sulkan berkali-kali dan teman-temannya sontak berteriak-teriak. “Dia ngencingi Aji, kurang ajar dia, harus dihajar, hayo siapa yang mau menghajar anak kurang ajar ini!”, teriak Lukman dengan nada emosi.

       Tiba-tiba Pak Guru Emad yang juga mau pulang, menghampiri kerumunan anak-anak yang mestinya sudah pada pulang. “Ini Pak, si Sulkan ngencingi Aji sampai bajunya basah. Harus dikasih pelajaran Pak  anak kurang ajar ini!”, jelas Lukman. Dan ketika ditanya Pak Guru, Sulkan hanya menunduk, menangis, agaknya menahan sakit karena tonjokan. “Sulkan, kamu minta maaf kepada Aji, dan jangan kamu ulang lagi ya. Lukman, kamu juga harus minta maaf kepada Sulkan karena kamu telah menghukum dan menghakimi sendiri teman yang nakal. Tidak boleh begitu caranya, seharusnya lebih baik kamu laporkan kepada Bapak atau Ibu Guru. Dan kamu Aji, harus cepat pulang lalu pergi mandi ya”, nasehat Pak Guru Emad kepada mereka sambil mengingatkan agar sesama teman harus saling menyayangi. “Sudah ya, sekarang pulang semua, jangan lagi ada yang membuli temannya dengan cara apa pun. Inilah yang namanya membuli dan semua akan menerima hadiahnya. Sulkan dan siapa saja, jadilah anak yang baik, sayang teman, rajin beribadah dan rajin belajar!”, pesan Pak Emad lalu beranjak pulang.*****Bekasi, Maret 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar