![]() |
| Ilustrasi Surat. (Sumber: Debby Hudson di Unsplash) |
Surat Kepada Sahabatku, almarhum Djoko Purnomo
Tjahjo di Alam Baqa
Sahabatku
yang baik,
Sudah tujuh tahun ini kita tidak pernah
berjumpa. Sebelumnya kamu selalu berkunjung setiap bulan ke rumahku, walaupun
dalam kondisimu sudah kurang sehat. Beberapa bulan sebelumnya memang aku sudah
merasa kehilangan, kenapa kok kamu nggak pernah datang lagi. Sedang berpikiran
mau silaturahmi ke rumahmu, tiba-tiba kakakmu Tjahjandari memberi kabar kalau
kamu sudah dipanggil ke haribaan Allah subhanahullah ta’ala pada tanggal 29
September 2019. Beberapa hari kemudian aku sekeluarga melayat ke rumahmu di kawasan
Tangerang. Terus terang, aku merasa sangat kehilangan sahabat terbaikku yang
kukenal sejak kita sama-sama menempuh pendidikan di SMP Negeri I Gresik.
Kenanganku, kamu adalah sahabatku yang
ceria dan periang. Sewaktu di kelas satu
kita pernah belajar berkelompok bersama Chamim, Budijanto, Bambang Sugihono dan
Machfud Badjuber. Secara bergilir kita masing-masing pernah menjadi tuan rumah tempat
belajar bersama pada sore hari. Ingat sewaktu masih di SMP Negeri I Gresik,
kalau bulan Ramadhan kita selalu janjian sholat tarawih bersama di Masjid Jami
Gresik. Kita sama-sama mengenakan sarung dan kopiah atau songkok warna hitam sebagai
tutup kepala. Karena sholatnya sebanyak 23 rakaat sehingga kita cukup lama bisa
diseling ngobrol dan bercanda selama libur panjang di bulan Ramadhan.
Setelah tamat SMP, kita sama-sama melanjutkan ke STM Kimia Yayasan Wisma
Semen Gresik {YWSG}. Aku berjalan kaki pulang-pergi setiap hari dari rumahku di
Telogobendung kota Gresik ke STM Kimia yang letaknya di Kawasan Pabrik Semen
Gresik. Lumayan jauh tetapi menyenangkan. Seringkali kamu mengajak naik sepeda dan
membonceng di stang, duduk di setir karena sepedamu tidak memiliki tempat
membonceng. Aku memegangi pundakmu berhadap-hadapan menaiki sepedamu yang sudah
tidak sehat. Terimakasih sobat, kamu memang sangat baik hati.
Ketika ujian akhir STM, kamu juga sangat
berjasa dalam hidupku. Karena ujiannya di STM Negeri di Ngaglik Surabaya, kamu
menawarkan indekos di rumah pamanmu, sehingga sangat menolong. Bersama Muchajat
dan Mustomo sahabat kita, kami bertiga indekos di rumah pamanmu itu selama
menempuh Ujian Negara STM. Setamat STM kamu bersama Mustomo lebih dulu
beruntung diterima bekerja di PT. Sasa Gedangan Sidoarjo. Sekitar tahun 1970-an
beberapa kali aku sempat berkunjung ke tempat indekosmu di dekat pabrik PT.
Sasa. Setelah itu lama kita tidak pernah jumpa. Baru setelah pensiun pada tahun
2006 aku berusaha mencarimu, tetapi semua saudaramu mengaku tidak tahu
keberadaanmu. Bertahun-tahun aku tetap berusaha mencari informasi, dan akhirnya
dapat dari salah seorang saudaramu yang sudah mapan berusaha restoran ikan
bandeng di Gresik. Alhamdulillah persahabatan langsung kembali bisa terjalin
walaupun kesempatan ketemuan hanya sebulan sekali. Seingatku, itu terjadi pada
sekitar tahun 2008 atau 2009 dan kita sering bicara ngalor-ngidul tentang masa
lalu. Tentang sejarah hidup mungkin menarik untuk sekedar mengingat kembali.
Dulu sewaktu masih di SMP, pakaianmu selalu terlihat rapi dari bahan yang
mahal. Itu bisa tercapai karena kedua orang-tuamu bekerja sebagai perawat dan
bisa dibilang cukup berada karena terlihat ketika beberapa kali kamu menjadi
tuan rumah belajar bersama. Tetapi sewaktu di STM keadaanmu berubah dan kamu
selalu bilang mengantar kue dulu ke warung-warung selama perjalanan berangkat
ke sekolah. Yang kemudian baru kutahu dari ceritamu. Bahwa Papamu dulu adalah
Ketua Baperki dan ketika terjadi peristiwa Gerakan 30 September 1965 diamankan oleh
militer. Dan sampai sekarang kabar Papamu tidak diketahui. Saya ikut prihatin
dan memahami karena penampilanmu sangat jauh berubah justru di usia remaja
sebagai siswa SLTA. Aku sebenarnya juga mengalami nasib yang serupa. Tetapi
kasusnya berbeda. Dulu orangtuaku bekerja di perusahaan swasta yang cukup maju.
Ketika terjadi peristiwa G30S 1965 itu, pemilik perusahaan tempat Bapakku
bekerja ditahan militer dan kemudian jatuh miskin karena perusahannya bangkrut
dan Bapakku di PHK alias diberhentikan. Sejak itu perekonomian keluargaku
mengalami kesusahan dan hampir saja aku putus sekolah di kelas dua STM. Tetapi
alhamdulillah kita bisa selesai sama-sama, ya.
Oh iya, beberapa waktu yang lalu aku
sekeluarga sempat bersilaturahmi ke rumah Oom-mu, Pak Mul di Tambak Segaran
Surabaya. Sempat ketemu putri beliau. Mereka kaget dan saya cerita, bahwa saya dulu pernah indekos di rumah Pak Mul pada
tahun 1969 ketika menempuh ujian STM Kimia. Aku bilang bahwa saya temannya Djoko
Purnomo Tjahjo alias Hari dan sempat ngobrol agak lama. Alhamdulillah, rumah
Pak Mul sudah berubah sangat bagus. Terkenang sewaktu belajar di rumah yang
dulunya sederhana namun berjasa telah memberikan ilham dan inspirasi, serta memberikan
kenyamanan dan semangat belajar sehingga semua teman yang indekos berhasil
lulus dengan baik. Muchajat almarhum sempat melanjutkan ke ITS dan terakhir sempat
menjadi Pejabat Tinggi di Kementerian BUMN. Aku sendiri berhasil mencapai nilai
ujian rata-rata 8,1 (delapan koma satu) dan alhamdulillah banyak mendapatkan keberuntungan dari nilai ujianku
itu.
Terimakasih ya kawan atas bantuan dan
budi baikmu waktu itu, semoga amal baik dan pertolongan Bapak Mulyanto dan Ibu
serta putra-putri beliau diterima Allah subhanahullah ta’ala dan mendapatkan
pahala yang baik di dunia dan akhirat. Juga aku minta maaf kepadamu atas segala
kekhilafan selama kita berteman dan bersahabat di masa lalu. Semoga ibadah
serta amal kebaikanmu diterima Allah subhanahullah ta’ala dan keluargamu
senantiasa mendapatkan kebahagiaan serta perlindungan dari-Nya.
Sekian dulu suratku, ya. Dulu sewaktu
mendengarkan ceramah agama ada yang masih kuingat. Bahwa arwah orang yang sudah meninggal itu masih bisa
menyaksikan tingkah polah dan keadaan orang yang masih hidup, tetapi tidak bisa
berkomunikasi langsung. Oleh karena itu aku berdoa, semoga suratku ini bisa kau
baca dengan baik. Okey sahabat, sampai jumpa lagi di lain kesempatan.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bekasi, 28 Februari 2026
Sahabatmu, Muhammad Sadji

Tidak ada komentar:
Posting Komentar