![]() |
| Gedung Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Sumber: Jurnalposmedia) |
Mungkin karena doktrin itu maka Amerika
Serikat bisa jadi negara maju, kaya dan kuat, sehingga mampu berbuat apa saja
di dunia ini. Terakhir, sejak tanggal 28 Februari 2026 yang lalu, dengan
seenaknya Amerika Serikat bersama Israel menyerang Iran dengan membabibuta,
menghancurkan gedung sekolah dan rumah sakit, bahkan menewaskan pemimpin
tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei (86 tahun). Bahkan sebelumnya, mereka
terlibat menggalang demonstrasi besar-besaran dengan tujuan untuk menggulingkan
pemimpin Iran tetapi bisa ditumpas oleh aparat keamanan Iran.
Tanggal 10 Maret 2026 Inews TV menggelar
diskusi dengan menampilkan pendukung Iran lawan pendukung koalisi Amerika
Serikat – Israel. Masing-masing berbantahan seru dengan mengaku sebagai orang
pintar yang ahli baca berbagai buku. Anehnya para mahasiswa yang dihadirkan dalam
acara tersebut ada yang bertepuk tangan riuh, entah sebagai tanda mengerti
karena juga sudah banyak membaca dari berbagai sumber, atau hanya bisa hanyut
dalam retorika pembicara saja. Seharusnya, sepulang diskusi, para pakar nara sumber
dan para mahasiswa membuka kembali buku atau literatur yang dimiliki,
atau segera pergi ke Perputakaan Nasional atau perpustakaan di manapun untuk
membaca banyak buku yang terkait agar tidak sesat berpikir walau pun hanya sebagai
penggembira dalam forum diskusi. Oleh karena itu Lembaga sekelas Perpustakaan
Nasional wajib tetap menyimpan semua buku, koran, majalah dan bahan bacaan apa
saja yang menyangkut berbagai hal yang penting guna menunjang pengembangan
serta pengkajian ilmu, pengetahuan dan informasi. Bahkan buku-buku yang
dilarang oleh suatu rezim juga harus tetap tersimpan di Perpustakaan Nasional
sebagai bahan referensi yang penting dalam membangun bangsa sesuai nasehat
negarawan Amerika Serikat di atas. Karena sejarah pasti terulang, maka buku
serta bahan bacaan masa lalu jangan ada yang dimusnahkan, harus terus tersimpan
dengan baik di Perpustakaan Nasional. Sebagai contoh nyata, ternyata pola
Amerika Serikat menguasai dunia terus diamalkan oleh hampir semua rezim Amerika
Serikat. Sepertinya, dulu bagaimana Amerika Serikat ingin menguasai tanah Papua
yang kaya bahan tambang emas, tembaga dan uranium, harus menjatuhkan Presiden
Soekarno dengan pola tipu daya dan adu dombanya. Terakhir, dengan tuduhan
pengedar narkoba, Presiden Venezuela Maduro harus dijatuhkan dan Amerika
Serikat menguasai sumber minyak Venezuela. Lalu, terhadap Iran juga begitu,
masak memilih pemimpinnya sendiri kok harus mendapat persetujuan Amerika
Serikat.
Nah, bangsa Indonesia antaralain harus
pandai membaca sejarah bangsa dengan baik, jujur serta cerdas, dan Perpustakaan
Nasional adalah tempatnya yang harus menyimpan segala buku dan bahan bacaan
yang netral dan bebas tidak terikat oleh siapa rezim dan apa maunya. Sebagai gudang ilmu, pengetahuan dan
informasi, Perpustakaan Nasional yang berdiri megah di jantung Kota Proklamasi
Kemerdekaan Jakarta, semoga mampu menyimpan semua buku karya anak bangsa tanpa
ada yang ditabukan apalagi dilarang.*****

Tidak ada komentar:
Posting Komentar