Entri yang Diunggulkan

GENERASI PENDOBRAK JILID III

 Harian Rakyat Merdeka terbitan 20 April  2010,memuat artikel dengan judul “Bodoh Permanen” yang ditulis oleh Arif Gunawan. Tulisan tersebut...

Jumat, 06 Maret 2026

Lomba Menulis Surat Untuk Yang Telah Pergi

 

Ilustrasi Surat. (Sumber: Debby Hudson di Unsplash)

Surat Kepada Sahabatku, almarhum Djoko Purnomo Tjahjo di Alam Baqa

Sahabatku yang baik,

      Sudah tujuh tahun ini kita tidak pernah berjumpa. Sebelumnya kamu selalu berkunjung setiap bulan ke rumahku, walaupun dalam kondisimu sudah kurang sehat. Beberapa bulan sebelumnya memang aku sudah merasa kehilangan, kenapa kok kamu nggak pernah datang lagi. Sedang berpikiran mau silaturahmi ke rumahmu, tiba-tiba kakakmu Tjahjandari memberi kabar kalau kamu sudah dipanggil ke haribaan Allah subhanahullah ta’ala pada tanggal 29 September 2019. Beberapa hari kemudian aku sekeluarga melayat ke rumahmu di kawasan Tangerang. Terus terang, aku merasa sangat kehilangan sahabat terbaikku yang kukenal sejak kita sama-sama menempuh pendidikan di SMP Negeri I Gresik.

       Kenanganku, kamu adalah sahabatku yang ceria dan periang. Sewaktu  di kelas satu kita pernah belajar berkelompok bersama Chamim, Budijanto, Bambang Sugihono dan Machfud Badjuber. Secara bergilir kita masing-masing pernah menjadi tuan rumah tempat belajar bersama pada sore hari. Ingat sewaktu masih di SMP Negeri I Gresik, kalau bulan Ramadhan kita selalu janjian sholat tarawih bersama di Masjid Jami Gresik. Kita sama-sama mengenakan sarung dan kopiah atau songkok warna hitam sebagai tutup kepala. Karena sholatnya sebanyak 23 rakaat sehingga kita cukup lama bisa diseling ngobrol dan bercanda selama libur panjang di bulan Ramadhan.

       Setelah tamat SMP, kita  sama-sama melanjutkan ke STM Kimia Yayasan Wisma Semen Gresik {YWSG}. Aku berjalan kaki pulang-pergi setiap hari dari rumahku di Telogobendung kota Gresik ke STM Kimia yang letaknya di Kawasan Pabrik Semen Gresik. Lumayan jauh tetapi menyenangkan. Seringkali kamu mengajak naik sepeda dan membonceng di stang, duduk di setir karena sepedamu tidak memiliki tempat membonceng. Aku memegangi pundakmu berhadap-hadapan menaiki sepedamu yang sudah tidak sehat. Terimakasih sobat, kamu memang sangat baik hati.

       Ketika ujian akhir STM, kamu juga sangat berjasa dalam hidupku. Karena ujiannya di STM Negeri di Ngaglik Surabaya, kamu menawarkan indekos di rumah pamanmu, sehingga sangat menolong. Bersama Muchajat dan Mustomo sahabat kita, kami bertiga indekos di rumah pamanmu itu selama menempuh Ujian Negara STM. Setamat STM kamu bersama Mustomo lebih dulu beruntung diterima bekerja di PT. Sasa Gedangan Sidoarjo. Sekitar tahun 1970-an beberapa kali aku sempat berkunjung ke tempat indekosmu di dekat pabrik PT. Sasa. Setelah itu lama kita tidak pernah jumpa. Baru setelah pensiun pada tahun 2006 aku berusaha mencarimu, tetapi semua saudaramu mengaku tidak tahu keberadaanmu. Bertahun-tahun aku tetap berusaha mencari informasi, dan akhirnya dapat dari salah seorang saudaramu yang sudah mapan berusaha restoran ikan bandeng di Gresik. Alhamdulillah persahabatan langsung kembali bisa terjalin walaupun kesempatan ketemuan hanya sebulan sekali. Seingatku, itu terjadi pada sekitar tahun 2008 atau 2009 dan kita sering bicara ngalor-ngidul tentang masa lalu. Tentang sejarah hidup mungkin menarik untuk sekedar mengingat kembali. Dulu sewaktu masih di SMP, pakaianmu selalu terlihat rapi dari bahan yang mahal. Itu bisa tercapai karena kedua orang-tuamu bekerja sebagai perawat dan bisa dibilang cukup berada karena terlihat ketika beberapa kali kamu menjadi tuan rumah belajar bersama. Tetapi sewaktu di STM keadaanmu berubah dan kamu selalu bilang mengantar kue dulu ke warung-warung selama perjalanan berangkat ke sekolah. Yang kemudian baru kutahu dari ceritamu. Bahwa Papamu dulu adalah Ketua Baperki dan ketika terjadi peristiwa Gerakan 30 September 1965 diamankan oleh militer. Dan sampai sekarang kabar Papamu tidak diketahui. Saya ikut prihatin dan memahami karena penampilanmu sangat jauh berubah justru di usia remaja sebagai siswa SLTA. Aku sebenarnya juga mengalami nasib yang serupa. Tetapi kasusnya berbeda. Dulu orangtuaku bekerja di perusahaan swasta yang cukup maju. Ketika terjadi peristiwa G30S 1965 itu, pemilik perusahaan tempat Bapakku bekerja ditahan militer dan kemudian jatuh miskin karena perusahannya bangkrut dan Bapakku di PHK alias diberhentikan. Sejak itu perekonomian keluargaku mengalami kesusahan dan hampir saja aku putus sekolah di kelas dua STM. Tetapi alhamdulillah kita bisa selesai sama-sama, ya.

       Oh iya, beberapa waktu yang lalu aku sekeluarga sempat bersilaturahmi ke rumah Oom-mu, Pak Mul di Tambak Segaran Surabaya. Sempat ketemu putri beliau. Mereka kaget dan saya cerita, bahwa  saya dulu pernah indekos di rumah Pak Mul pada tahun 1969 ketika menempuh ujian STM Kimia. Aku bilang bahwa saya temannya Djoko Purnomo Tjahjo alias Hari dan sempat ngobrol agak lama. Alhamdulillah, rumah Pak Mul sudah berubah sangat bagus. Terkenang sewaktu belajar di rumah yang dulunya sederhana namun berjasa telah memberikan ilham dan inspirasi, serta memberikan kenyamanan dan semangat belajar sehingga semua teman yang indekos berhasil lulus dengan baik. Muchajat almarhum sempat melanjutkan ke ITS dan terakhir sempat menjadi Pejabat Tinggi di Kementerian BUMN. Aku sendiri berhasil mencapai nilai ujian rata-rata 8,1 (delapan koma satu) dan alhamdulillah  banyak mendapatkan keberuntungan dari nilai ujianku itu.

       Terimakasih ya kawan atas bantuan dan budi baikmu waktu itu, semoga amal baik dan pertolongan Bapak Mulyanto dan Ibu serta putra-putri beliau diterima Allah subhanahullah ta’ala dan mendapatkan pahala yang baik di dunia dan akhirat. Juga aku minta maaf kepadamu atas segala kekhilafan selama kita berteman dan bersahabat di masa lalu. Semoga ibadah serta amal kebaikanmu diterima Allah subhanahullah ta’ala dan keluargamu senantiasa mendapatkan kebahagiaan serta perlindungan dari-Nya.

       Sekian dulu suratku, ya. Dulu sewaktu mendengarkan ceramah agama ada yang masih kuingat. Bahwa arwah orang  yang sudah meninggal itu masih bisa menyaksikan tingkah polah dan keadaan orang yang masih hidup, tetapi tidak bisa berkomunikasi langsung. Oleh karena itu aku berdoa, semoga suratku ini bisa kau baca dengan baik. Okey sahabat, sampai jumpa lagi di lain kesempatan. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

                                                                                                              Bekasi, 28 Februari 2026

                                                                                                              Sahabatmu, Muhammad Sadji