Membangunnya juga dengan ilmu dan kesungguhan serta kejujuran
Entri yang Diunggulkan
GENERASI PENDOBRAK JILID III
Harian Rakyat Merdeka terbitan 20 April 2010,memuat artikel dengan judul “Bodoh Permanen” yang ditulis oleh Arif Gunawan. Tulisan tersebut...
Jumat, 20 September 2024
Jalan Raya
Membangunnya juga dengan ilmu dan kesungguhan serta kejujuran
Indonesia Jaya
![]() |
| Tukang Becak di Jalanan di Bandung. (Sumber: Fikri Rasyid via Unsplash) |
Tujuhbelas Agustus tahun sembilan belas empat lima
Itulah Hari Kemerdekaan kita
Hari terbebasnya nusa dan bangsa
Dari belenggu penjajahan manca negara
Tujuh puluh sembilan tahun sudah
Usia Negara Kesatuan Republik Indonesia
Para pendahulu telah berjuang dengan susah payah
Untuk mempertahankan negeri tercinta
Kini saatnya kita membangun
Dengan bersungguh-sungguh dan penuh tanggung-jawab
Disertai penuh dedikasi dan kejujuran
Demi tercapainya Indonesia Raya yang jaya dan beradab
Hayo singsingkan lengan baju kita
Bergerak bersama mengejar kemajuan
Kerja bergotong royong menuntun kita bersama
Untuk mencapai kegemilangan di masa depan*****
Bekasi, Juli 2024
Rabu, 18 September 2024
Indonesia Raya
![]() |
| Peta Indonesia (Sumber: Wikipedia) |
Indonesia
Raya tanah air kita
Terhampar
luas di khatulistiwa
Dengan
iklimnya yang istimewa
Gemah
ripah loh jinawi alamnya
Banyak suku bangsa mendiami
Berbagai agama hidup penuh toleransi
Bhinneka Tunggal Ika perekatnya
Dalam bingkai Pancasila sebagai
tamengnya
Berbagai
pengalaman dialami sepanjang sejarahnya
Pasang
surut perjuangan dengan pertaruhan hidup atau mati
Indonesia
Pusaka harus tetap dijaga
Walau
berbagai rong-rongan datang silih berganti
Kaya pengalaman adalah guru yang
berharga
Mengisi kemerdekaan merupakan upaya perjuangan
Dengan karya dan jasa yang penuh
wibawa
Untuk Indonesia Raya yang jaya
sepanjang jaman
Indonesia
Pusaka karunia Illahi
Harus kita
kawal dengan penuh tata krama dan tidak korupsi
Pelihara
alam lingkungannya agar tetap lestari
Demi
tercapainya Indonesia Raya yang maju dan cinta damai*****
Bekasi,
Desember 2023
Selasa, 14 Mei 2024
Kisah Kodok Ijo dan Cicak
![]() |
| Ilustrasi Katak dan Cicak. (Sumber: NU Probolinggo) |
Taman Kanak-kanak (TK) Yudha Jatikramat Indah I Bekasi ramai anak sekolah sedang istirahat. Mereka berlarian dan bersenda-gurau ala anak-anak yang sebagian besar masih berusia balita. Seekor Cicak warna putih kehitaman yang sudah lama menghuni di Gedung TK Yudha ikut sibuk mengamati keceriaan anak-anak sambil memperhatikan makanan mereka yang tercecer karena masih pada belajar makan mandiri. Cicak itu selalu kenyang memakan ceceran makanan anak-anak yang beraneka macam jenis masakan.
Bel berbunyi, tanda istirahat sudah selesai. Anak-anak masuk kelas kembali dengan rapi dan teratur. Setelah anak-anak duduk rapi, Ibu Guru berseru :”Anak-anak, sekarang kita akan menyanyi! Lagunya berjudul “Cicak”. Siapa yang sudah tahu Cicak?”. Semua menjawab sambil mengangkat tangan :”Saya tahu Bu Guru!”. Baik, sekarang dengarkan semuanya, kata Bu Guru.
Karena mendengar namanya disebut-sebut, Cicak lalu beranjak masuk ke dalam kelas dan langsung merayap ke dinding kelas terus naik ke atas. Anak-anak ada yang mengamati. “He…..,itu Cicaknya!”, seru mereka sambil menuding ke arah Cicak yang sudah bertengger di dinding sekolah. “Iya,..lihat semuanya, itulah Cicak, dia ikut memperhatikan kalian! Ayo kita menyanyi yang baik!”, pinta Bu Guru.
Bu Guru memulai menyanyi dengan suara merdunya. “Cicak-cicak di dinding, diam-diam merayap. Datang seekor nyamuk, hap…hap…lalu ditangkap”, begitu berulang-ulang dan semua murid menyimak dan ada yang menirukan karena kebanyakan sudah diajari oleh orangtuanya di rumah. Cicak menyimak dengan senang hati karena namanya disebut dalam nyanyian. Sambil berjoget menyibak-nyibakkan ekornya, dia berpikir, nyamuk pasti enak, ya! Dia membayangkan :”Di mana ya bisa dapat nyamuk?”.
Lama-kelamaan si Cicak tahu wujud nyamuk yang biasa muncul pada malam hari dan sukanya menggigit manusia. Pada hal, pada malam hari di Sekolah TK Yudha tidak ada manusia sehingga tidak dijumpai nyamuk sama sekali. Tiap hari anak-anak menyanyikan lagu Cicak disertai gayanya masing-masing. Suatu hari Bu Guru bercerita tentang nyamuk, serangga berbahaya karena bisa menyebarkan dan menyebabkan berbagai jenis penyakit pada manusia yang digigit. Cicak jadi tahu bahwa nyamuk berkembang biak dengan bertelur di air, kemudian berubah menjadi jentik-jentik, dan beberapa lama kemudian berubah menjadi nyamuk. Diam-diam Cicak melakukan observasi, dia pergi ke got atau selokan dekat sekolah. Sepanjang pagi, siang dan malam dia mengamati got. Ternyata benar, dia tahu kapan nyamuk bertelur, jadi jenti-jentik dan setelah sampai waktunya, umumnya pada sore hari berubah menjadi nyamuk dan langsung terbang setelah bertengger di tempat daratan atau di atas daun tumbuh-tumbuhan sebelum terbang. Berhari-hari Cicak mengamati nyamuk yang baru berubah dari jentik-jentik menjadi nyamuk. Sesekali dia berancang-ancang ingin menangkap nyamuk sebelum terbang, tetapi dia selalu ragu-ragu takut jatuh ke air. Dan benar juga, ketika Cicak mau menyaplok nyamuk, tidak berhasil karena keburu terbang dan dia malah terjatuh ke dalam air. “Sialan !”, katanya sambil tertatih-tatih berusaha berenang ke daratan. Maksud hati ingin menikmati nyamuk malah tertelan air got. Untung masih bisa menyelamatkan diri dan kembali bertengger di atas daun. “Ah…,lebih nyaman menikmati ceceran makanan anak-anak TK yang beragam !”, gerutu Cicak.
Sedang asyik membayangkan rasa nyamuk, tiba-tiba datanglah seekor Kodok Ijo yang sedang santai berenang ria. “Hai Cicak, sedang ngapain kamu termenung di situ?”, sapa Kodok Ijo mengagetkan si Cicak. Kodok Ijo yang tiba-tiba menyembul ke permukaan, membuat Cicak tergeragap dan menjawab :”Aku sedang menunggu nyamuk tapi belum pernah dapat!”. Oh, kamu sebaiknya makan yang biasa kamu cari saja, Cicak! Biar aku yang makan jentik-jentiknya. Dan lagi, sudah lama ya kamu berjaga di sini?”, kata Kodok Ijo memberi saran kepada Cicak.
“Nggak juga! Aku kan hanya ingin merasakan nyamuk seperti yang dinyanyikan anak-anak TK. Sehingga sampailah aku di tempat ini. Selama ini sih, aku dapat makanan dari anak-anak yang tercecer di kelas atau tempat bermain, karena mereka kan baru belajar makan mandiri!”, jelas si Cicak. “Temanmu banyak, ya Cicak? Kalau aku tinggal sendirian karena teman-temanku banyak ditangkap manusia untuk dijadikan santapan. Aku berhasil lari dan bersembunyi di sepanjang got di komplek perumahan ini. Dan ternyata lumayan, gotnya cukup bersih dan banyak nyamuk bertelur!”, cerita si Kodok Ijo sedikit memelas. “Kalau aku, temanku banyak karena tidak diburu manusia, dan aku bisa sembunyi di celah-celah yang aman”, jelas si Cicak. Kodok Ijo dengan matanya berkaca-kaca melanjutkan ceritanya :”Dulu temanku juga banyak sekali, karena tempat kita ini tadinya berupa persawahan yang luas. Menurut tetuaku, persawahan itu sangat luas dan hidup berbagai hewan air termasuk ular yang juga memangsa kelompokku. Ketika kemudian berubah menjadi kawasan perumahan, terjadi pengurugan lahan, dan sejak itu Kodok Ijo banyak terbunuh. Beruntung, kelompok biangku berhasil lari menyelamatkan diri. Disamping perburuan oleh manusia untuk diperdagangkan sebagai bahan santapan, manusia yang semakin banyak juga membuat kami punah karena got menjadi jorok dan banyak beracun. Sewaktu kami masih banyak, di malam hari kami selalu bernyanyi bersama. Orang bilang kami ber”ngorek” sehingga ada lagu tentang Kodok!”. Yang tiba-tiba memancing Cicak nyeletuk :”Coba kau nyanyikan lagumu itu, biar aku tahu!”.
Dengan sedikit tersenyum dan tertawa kecil, Kodok Ijo kemudian bernyanyi :”Kodok ngorek…Kodok ngorek,,,ngorek pinggir kali. Teot teblung…teot teblung…teot…teot teblung. Bocah pinter…bocah pinter…besuk dadi dokter”. Cicak sambil mengibaskan ekornya pertanda sangat suka, memberikan komentar :”Oei, lagumu bagus lho Kodok Ijo!”. Sambil membanggakan diri, Kodok Ijo menyambung ceritanya :”Ya, tetapi sekarang aku tidak pernah bernyanyi atau ber”ngorek” lagi, di samping karena sendirian, juga takut diketahui manusia atau ular yang kemudian memburuku. Maka aku hanya sembunyi terus sambil mencari serangga makananku. Aku paling suka makan jentik-jentik lho, Cicak! Jadi kamu tidak akan sempat mencoba makan nyamuk dari sepanjang got ini. Manusia mestinya berterimakasih kepadaku dan kawan-kawanku, karena nyamuk sudah kuberantas sejak baru menjadi jentik-jentik”.
Sedang asyiknya mereka berdua bersantai ria di pagi hari, tiba-tiba air got berombak cukup mengagetkan. Kodok Ijo dan Cicak sempat terjengkang dari tempatnya. Kodok Ijo sangat paham suasana demikian. “Cicak…., mungkin orang-orang sedang kerja bakti keruk-keruk got, Aku harus menyelamatkan diri, lari dari tempat ini! Aku harus segera mencari tempat yang aman!”, seru Kodok Ijo dengan tergopoh-gopoh dan segera lari dengan berenang.
Dengan perasaan iba, Cicak berteriak kepada Kodok Ijo yang sudah menjauh :”Selamat ya Kodok Ijo, semoga kamu dapat tempat yang aman dan nyaman. Semoga kamu ketemu teman-temanmu di tempat yang membahagiakan! Sambil menitikkan air matanya, Cicak terus mengamati Kodok Ijo yang berenang semakin menjauh dari pandangannya. Setelah hilang dari penglihatannya, Cicak pun segera beringsut menyembunyikan diri dan siap lari ke pelataran TK untuk mencari makanan anak-anak yang tercecer, sembari terus berdoa bagi keselamatan si Kodok Ijo, sahabat barunya yang tiba-tiba terputus dan berpisah. ***** Bekasi, pertengahan September 2022.
Selasa, 30 April 2024
Sedekah Itu Obat
Kamis, 26 Januari 2023
Beras Porang
![]() |
| Presiden Jokowi di Pengolahan Porang di Madiun. (Sumber: BPMI Sekretariat Presiden) |
![]() |
| Tanaman Porang di Kawasan Hutan Situbondo. (Sumber: Momentum.com) |
Sabtu, 03 Desember 2022
Menjadi Juru Masak Duet Suami/Istri Bersama Kecap ABC #SuamiIstriMasak
Minggu, 31 Juli 2022
Layang-Layang
![]() |
| Lukisan "Benjamin Franklin Drawing Electricity from the Sky" karya Benjamin West |
Indonesia yang terletak di garis khatulistiwa, mengalami dua musim, yaitu musim penghujan dan musim kemarau. Apabila normal, pergantian musim terjadi dalam setiap setengah tahun. Dan pada setiap pergantian musim yang disebut musim pancaroba, angin bertiup demikian kencang dan selalu dimanfaatkan oleh orang dewasa maupun anak-anak untuk bermain layang-layang. Bulan Juli telah tiba, yang merupakan musim pancaroba, perubahan dari musim penghujan ke musim kemarau. Awal bulan Juli adalah merupakan libur panjang bagi anak sekolah dan segera memasuki tahun ajaran baru.
Aji naik
ke kelas enam. Bapaknya mewanti-wanti :”Aji, kamu sekarang sudah kelas enam.
Sebentar lagi kamu akan masuk SMP. Kurangi bermain-main dan giatlah belajar
agar nilai ujianmu bagus supaya nanti bisa mendapat SMP yang baik!”. Aji
menyimak dan memperhatikan dengan baik nasihat Bapaknya. Sepulang sekolah,
setelah sholat, makan siang dan istirahat, dia sempatkan waktu untuk membaca dan
mengulang pelajaran yang didapat sepanjang hari tadi. Bapak si Aji sangat
gembira dan bahagia melihat anaknya semakin rajin belajar dan mengurangi waktu
bermain. Apalagi main HP dan menonton TV sudah sangat dia kurangi. Sesekali
sempat juga main sepakbola di lapangan bersama teman akrabnya, Mono, Amin, Tomo
dan Joni sambil bersenda-gurau.
Pada hari
Minggu pertengahan Juli, libur panjang seharian. Cuaca cerah dan panas
menyengat. Angin bertiup kencang menerbangkan debu dan dedaunan yang sudah layu
serta sampah ke segala arah. Terkadang diseling munculnya angin puting beliung
kecil yang bergerak berputar-putar menghempaskan debu dan sampah berterbangan.
Orang dewasa dan anak-anak ramai menerbangkan layang-layangnya yang
berwarna-warni dan beraneka bentuk. Ada juga yang saling mengadu. Layang-layang
dikendalikan menyambar kesana-kemari, menukik dan kemudian benang saling
bergesekan. Kalau ada yang putus, bersorak-sorailah mereka dan sering disertai
saling mengejek.
Empat sekawan,
Mono, Amin, Tomo dan Joni sedang asyik memainkan layang-layangnya disertai
canda-ria. Tiba-tiba mereka saling mempertanyakan kenapa kok Aji tidak muncul
main layang-layang seperti biasanya. Aji memang tidak lagi main layang-layang
seperti dulu. Bapaknya menasihati, bahwa main layang-layang itu hanya
membuang-buang waktu. Kalau ada layang -layang putus, anak-anak pada berlarian
mengejar dan tidak tahu lagi bahaya yang mengancam misalnya ada yang terjatuh,
atau tertabrak kendaraan bermotor. Lebih baik belajar, kata Bapaknya. Sore hari
selepas main layang-layang, empat sekawan teman Aji sepakat mampir ke rumah
Aji. “Assalamualaikum…..”, teriak mereka, yang disambut Ibunya Aji :”Waalaikum
salaam, cari Aji ya! Tunggu ya, Aji sedang mandi. Ayo masuk!”. Ketika masuk ke ruang
tamu, teman Aji kaget. Ternyata Aji punya banyak layang-layang yang dipajang di
ruang tamu dan ada yang menumpuk di meja tamu. “Dia punya banyak layang-layang,
tetapi kenapa tidak dimainkan, ya?”, tanya salah seorang keheranan sambil
bergumam.
Aji
selesai mandi dan segera menemui teman-temannya :”Hai….., asyik ya mainnya!”.
Temannya menjawab hampir serempak :”Iya asyik, kenapa kok kamu nggak ikut
keluar seperti dulu, Aji?”. Aji kemudian menjelaskan secara panjang lebar
kepada teman-temannya :”Begini teman-teman! Kita ini kan sudah naik ke kelas
enam dan sebentar lagi mau ujian lalu mencari SMP. Bapak bilang, kurangi
bermain dan banyaklah belajar agar mendapat nilai yang baik dan mendapat SMP
yang baik. Layang-layang atau benangnya yang nyangkut di kabel listrik, bisa
menyebabkan korsleting dan bisa timbul kebakaran, kan daerah kita padat
perumahan dan banyak kabel listrik serta yang lain berselawiran. Banyak bangkai
layang-layang yang nyangkut di kabel-kabel, atap rumah dan di pepohonan yang
tidak sedap dipandang mata, kata Ibuku juga. Dari pada membuang-buang waktu
lebih baik dipakai belajar, kata Bapakku!”. Tiba-tiba seorang di antara mereka
menangkis :”Kan kita perlu juga refreshing dan bersuka-cita, Aji, jangan
belajar terus, bisa pusing lho! Dan lagi, kok layang-layangmu kamu pajang, dan
gambarnya bagus-bagus, beli di mana, ya?”. Aji menjawab :”Aku beli warna polos
lalu kulukis sebagai refreshingku”. Seorang lagi menanyakan :”Lho, kok ada
gambar kakek-kakek bermain layang-layang, kakekmu ya?”. Teman-temannya yang
lain ikut menimpali tetapi disertai tertawa kecil kegelian sambil memperhatikan
gambar seorang tua berkepala botak tetapi gondrong ke belakang yang dikiranya
kakeknya Aji. Tetapi buru-buru Aji menjelaskan :”Oh bukan, itu Benjamin Franklin
tokoh negarawan Amerika Serikat yang pernah bermaksud membuktikan listrik
statis dari awan, kilat dan petir dengan
menerbangkan layang-layang setinggi mungkin sewaktu langit berawan mendung”.
Wee…..hebat,
Aji banyak membaca dan belajar, pengetahuannya banyak!”, seru si Amin dan
bertanya :”Listrik statis itu apa ya, Aji?”. “Oh nanti, kita pasti tahu pada
waktunya, belajar saja dulu sekarang dan sekolah terus!”, kelit Aji sambil
tersenyum menjawab pertanyaan teman-temannya. Setelah melahap jamuan yang
disuguhkan oleh Ibunya Aji, mereka pamit pulang. Di perjalanan, sambil masing-masing
menenteng layang-layangnya, mereka saling bergumam :”Kita sebaiknya ikut rajin belajar
seperti Aji, ya!”.*****
Bekasi,
Juli 2022
Minggu, 03 Juli 2022
KURANG GARAM, KURANG CABE

Anak Kecil Sedang Bernyanyi. (Sumber: Pexels oleh Katya Wolf)
Setiap datang hari Rabu, Darso pasti
merasa sedih. Mata pelajaran kesenian selalu membuatnya keringat dingin,
inginnya segera pulang kalau saja tidak takut dihukum atau dimarahi Ibunya
karena membolos. Setiap pelajaran kesenian, dalam batin dia berdoa, semoga
pelajarannya diisi dengan melukis atau menggambar, atau prakarya saja, jangan
seni suara atau menyanyi. Kalau pelajaran menyanyi pasti mati kutu, deg-degan
sepanjang pelajaran, karena takut mendapat giliran. Kalau kebetulan mendapat
giliran, senangnya Darso menyanyikan lagu yang cepat, biar cepat selesai. Yang
membuat Darso sedih dan malu, karena setiap menyanyi pasti disoraki
teman-temannya dan diteriaki bersahut-sahutan :” Hee…suaranya fals, kurang
garam!. Iya…kurang garam!”.
Alam pikiran murid kelas tiga Sekolah
Dasar kebanyakan percaya saja. Pada hal pelajaran seni suara adalah suasana
kegembiraan dan penuh senda-gurauan serta gelak-tawa. Tetapi Darso suka
baperan, selalu dibawa ke perasaan. Maka setiap jajan waktu istirahat, yang
dituju Darso selalu tukang bakso atau mie ayam dan minta garam yang banyak.
Tukang bakso sampai dibuat keheranan. Anehnya, setiap menyanyi kok
teman-temannya masih saja teriak kurang garam bersaut-sautan sehingga membuat
Darso juga heran. “Ah, mungkin lagunya yang harus ganti! “, pikirnya dalam
hati. Maka dihapalkannya lagu lain, dengan harapan tidak dibulli lagi oleh
teman-temannya.
Tiap mandi, Darso bernyanyi dengan lagu
baru pilihannya. Ibunya keheranan, karena Darso sekarang suka bernyanyi dan
dengan suaranya keras-keras. Ketika tampil dengan lagu baru, teman-temannya
malah berubah teriakannya dan saling bersautan:” Oe…lagu baru choi! Tapi masih
fals, kurang cabe, kurang sambal pedas!, Iya…, kurang nyaring, kurang cabe !”.
Darso mikir lagi, bagaimana suara bisa nyaring, ya? Maka tak berpikir panjang,
setiap istirahat, Darso selalu lari ke tukang bakso dengan sambal dibanyaki dan
terkadang sampai gaber-gaber. Tukang bakso dibuat heran lagi. Beberapa hari
yang lalu suka garam, kok sekarang ganti suka sambal. Bahkan suatu kali, tukang
bakso sampai marah dan ngomel-ngomel menuduh Darso yang menghabisi sambal.
Tiba-tiba Darso tidak masuk sekolah,
kabarnya sakit perut. Karena sudah tiga hari ijin sakitnya, Guru Wali Kelas dan teman-temannya kemudian
pergi menjenguk ke rumah Darso. Berjalan kaki mereka beriringan menuju ke rumah
Darso sepulang sekolah. Dengan pucat dan masih lemah, Darso didampingi Ibundanya
tertawa meringis karena geli ketika diminta Ibu Guru bercerita pengalamannya
supaya didengar teman-temannya. Darso mengaku dengan jujur semua pengalamannya
yang aneh dan lucu, sambil tertawa geli dan berharap mendapat simpati. Sambil menatap
temannya yang paling garang meledek sewaktu dia bernyanyi,, Darso meneruskan
ceritanya :”Karena setiap menyanyi selalu diolok-olok teman-teman, katanya suara
fals kurang garam dan kurang cabe, maka diam-diam sewaktu jajan bakso atau mie
ayam, saya selalu suka makan sambal dan mungkin terlalu banyak. Sakit perut ini
kata dokter, karena kebanyakan makan sambal yang pedas sehingga mengganggu
pencernaan”. Ibunda Darso ikut menimpali sambil tersenyum geli :”Dipikirnya,
dengan banyak makan sambal dikiranya bisa bernyanyi seperti artis penyanyi, tak
tahunya ternyata perutnya yang jadi terkikis”. Mendengar cerita Darso, semua
yang menjenguk tertawa terkekeh-kekeh.
Cukup
lama mereka menjenguk Darso, saling mengobrol dan bercanda-ria. Ibu Guru tiba-tiba
menghentikan acara kangen-kangenan Darso dengan teman-temannya dan berujar :”Anak-anak,
Darso perlu istirahat yang banyak. Mari kita berdoa menurut agama dan
kepercayaan kalian masing-masing agar Tuhan Yang Mahakuasa segera memberikan kesembuhan
kepada Darso sehingga bisa segera masuk sekolah kembali. Nanti kalian jangan
lagi saling meledek atau membulli dan harus saling akur dengan sesama teman.
Bagi yang beragama Islam mari kita bacakan Surat Al-Fatihah. Hayo, mari kita berdoa!”.
Setelah dinasihati Ibu Guru Wali Kelas, semenjak itu tidak ada lagi
buli-membuli di kelas terutama sewaktu pelajaran menyanyi atau seni suara.*****(dikembangkan dari
cerpen karya Penulis dalam Bahasa Jawa yang berjudul “Kurang Uyah lan Kurang
Lombok” dan dimuat dalam buku : Asmarandana, penerbit Graf Literasi, cetakan
pertama Agustus 2020 hal. 97-98).
Senin, 13 Juni 2022
Hobi Surat Menyurat
Suatu hari, Uci bongkar-bongkar koleksi hobi Bapaknya. Selama pandemi
Covid-19 ini, dia banyak berdiam diri saja di rumah. Setelah belajar via medsos
mengenai pelajaran di sekolah, biasanya kemudian nonton TV, lalu banyak main
gawai sambil bermalas-malasan.
“Wei, ini apa Pak kok banyak sekali?”, teriak si Uci ketika menemukan
tumpukan post card atau kartu pos yang diperoleh Bapaknya sewaktu masih sekolah
dulu. “Oh, itu kartu pos koleksi Bapak waktu masih sekolah di SMP dan STM.
Bapak dulu suka berkirim surat!”, jelas Bapaknya. “Kamu suka?”, tanyanya
kemudian. “Iya Pak, untuk Uci ya? Gambarnya bagus-bagus, Uci senang dan suka
sekali untuk menyimpannya!”, jawabnya.
“Nah, kalau begitu, kamu harus mulai cari sendiri. Punya Bapak boleh
kamu simpan, jangan sampai rusak apalagi hilang, karena itu kenang-kenangan
Bapak!”, pesan Bapak si Uci. “Cari atau beli di mana, Pak?”, tanyanya.
“Caranya, kamu harus menulis surat untuk meminta post card, buku atau majalah.
Kebetulan, radio luar negeri siaran Bahasa Indonesia mungkin alamatnya masih
tetap sama!”, jelas Bapaknya.
“Bagaimana caranya menulis surat, Pak, saya belum tahu, belum pernah
diajarkan di sekolah”, jelasnya menghiba. “Coba, kamu kan sudah kelas lima, buat
surat minta dikirim post card mengenai Australia ke Radio Australia. Nanti juga
ke Radio Asing lainnya!”, kata Bapaknya memberi semangat. Uci lalu mencari buku
tulis sisa kelas empat yang belum habis terpakai. Dicobanya membuat surat lalu
disodorkan kepada Bapaknya. “Ya, bagus! Tetapi harusnya singkat saja, kenalkan
kamu kelas berapa, ingin mendapatkan post card dan apa saja, lalu berikan
alamatmu sekolah atau rumah dan ucapan terimakasih! Coba ulang lagi membuat
suratnya!”, kata Bapaknya sambil memuji.
Setelah dianggap cukup baik dan dicoba ditulis rapi di kartu pos,
diajaklah si Uci ke Kantor Pos. Mereka membeli sejumlah kartu pos dan prangko,
sehingga tahulah Uci seluk beluk Kantor Pos. Diajarilah Uci menulis surat di
kartu pos dengan tulis tangan dan menempelkan prangkonya sesuai tarip yang
berlaku. Tahap awal dikirim ke Radio Australia, Suara Amerika, BBC Inggris,
Radio Beijing dan Radio Nederland. Sambil menunggu dan berdoa, diterimalah
balasan dari semuanya secara beruntun beberapa lama kemudian. Ada yang
memberikan post card, majalah, dan jadwal acara siaran radio. Bukan main
senangnya si Uci karena mendapat mainan baru, hobi menulis surat. Semua kiriman
dari siaran radio luar negeri tersebut, setelah serius belajar, dibolak-balik
untuk dibaca dan dinikmati keindahan gambar-gambarnya. “Sekarang kamu boleh
mencoba menulis surat kepada siapa saja! Cobalah buat surat kepada
sanak-saudara kita di kampung. Berceritalah mengenai apa saja, kabar tentang kesehatan,
perkembangan sekolahmu dan lain-lain. Dengan belajar menulis surat, kelak kamu
bisa jadi penulis. Juga bisa jadi pegawai yang baik dan kelak akan mudah ketika
membuat skripsi sewaktu menjadi mahasiswa. Oleh karena itu mulailah mencari
sahabat pena untuk saling menulis surat”, nasihat Bapaknya, dan Uci menyimak sambil
memeluk kiriman pos yang baru diterimanya. Hobi surat-menyurat menjadi hiburan
si Uci. Bekal atau uang saku yang diterima dari orang-tuanya selalu sebagian disisihkan
untuk membeli kartu pos, amplop, kertas surat, serta prangko guna memenuhi hobi
barunya yang ditekuni dengan rajin. Uci sangat menyimak kata-kata Bapaknya yang
mengutip nasihat orang Barat :”Tekunilah hobi agar menjadi sahabat yang karib
bagimu!”.*****








_-_Benjamin_Franklin_Drawing_Electricity_from_the_Sky_-_Google_Art_Project.jpg)