Entri yang Diunggulkan

GENERASI PENDOBRAK JILID III

 Harian Rakyat Merdeka terbitan 20 April  2010,memuat artikel dengan judul “Bodoh Permanen” yang ditulis oleh Arif Gunawan. Tulisan tersebut...

Kamis, 14 April 2022

MUTU INFRASTRUKTUR KITA

 

          

          Kompas com. tanggal 17 Januari 2022 memberitakan bahwa jembatan KW6 di Kelurahan Karangpawitan, Kecamatan Karawang Barat, Kabupaten Karawang – Jawa Barat, ambles. Pada hal jembatan yang dibangun dengan anggaran sebesar Rp 10 milyar itu belum satu bulan diresmikan oleh Bupati Karawang Cellica Nurrachadiana. Berdasar pantauan Tribun Bekasi, jembatan itu ambles pada bagian sisi dekat saluran irigasi sepanjang 200 meter. Material jembatan yang menempel pada sisi saluran irigasi itu longsor, sehingga  konstruksi jembatan mengalami ambles. Jembatan yang didesain dengan lebar 7 meter dan panjang 43,50 meter tersebut, menghubungkan Kecamatan Rawamerta dengan Kecamatan Karawang Barat. Jembatan yang populer disebut Jembatan Kepuh ini resmi beroperasi pada hari Rabu 29 Desember 2021 yang diresmikan dengan penandatanganan dan pengguntingan pita oleh Bupati didampingi Sekda Asep Jamhuri, Kepala Dinas PUPR dan Camat Karawang Barat. Jembatan ini juga diharapkan menjadi jalur alternatif ke obyek wisata sejarah Rawagede, dan juga untuk membangkitkan ekonomi masyarakat di sepanjang jalur.

           Kasus semacam ini sebenarnya banyak sekali terjadi di tanah-air kita. Suatu infrastruktur atau prasarana untuk umum baru dibangun, sudah banyak yang rusak dan jebol tak berumur panjang. Penulis yang pernah bertugas berpindah-pindah kota di hampir seluruh Indonesia menyaksikan dengan mata kepala sendiri, betapa bangunan peninggalan Hindia-Belanda umumnya berarsitektur yang indah, kokoh dan kuat sepanjang masa. Tetapi sekarang malah banyak yang tidak artistik dan mudah rusak serta mencelakakan. Jembatan Poso, Moutong dan Luwu di Sulawesi yang terbuat dari kayu, sampai tahun 2000-an masih kelihatan kokoh dan cantik dipandang, sementara bangunan baru di sebelahnya tampak memalukan dari segala aspek. Begitu juga selama bertugas di Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat, peninggalan Hindia-Belanda masih tampak megah, tetapi pembangunan penggantinya kelihatan tidak berseni sama sekali. Sewaktu di Timor-Timur tahun 1996/1997 juga demikian. Peninggalan Portugis semuanya indah dan megah serta artistik, sementara bangunan selama kita kuasai, sangat memalukan penampilannya. Gedung sekolah, pasar, perkantoran semuanya nampak lucu apabila dibandingkan dengan peninggalan Portugis. Sehingga kesimpulannya, bangsa Indonesia sebenarnya mengalami degradasi mutu apabila dinilai dari sektor pembangunan  infrastruktur. Contoh lain banyak yang bisa dikemukakan untuk mawas diri sebagai bangsa. Kota Gresik misalnya, Sekolah Dasar Negeri Bedilan yang indah dan menarik peninggalan Belanda, dirombak seenaknya sehingga kelihatan sumpek, tidak nyaman sebagai Lembaga Pendidikan yang seharusnya nyaman dari segi tata cahaya, tata suara dan tata udaranya. Dulu, sampai dengan tahun 1965, keberadaan tiang listrik maupun gardu listrik serta tiang telpon berdiri gagah, tegak lurus dan nampak simetris. Setelah jaman pembangunan, malah nampak  peang-peang dan semrawut di mana-mana, termasuk di kota-kota besar di seluruh Indonesia. Bahkan di Jabodetabek sendiri, apabila diperhatikan di sepanjang jalan raya, berdiri tiang-tiang berjejer umumnya lebih dari lima batang, ketinggian tidak sama, berdiri tidak tegak lurus, umumnya berkarat dan kabelnya pating slawir tidak beraturan. Degradasi mutu ini dirasakan jelas sekali setelah Orde Baru berkuasa sejak tahun 1966. Marak euforia pembangunan tetapi tidak disertai dengan mutu profesionalisme dan kontrol yang memadai dan maraknya perilaku koruptif yang merajalela. Kondisi degradasi mutu ini sebenarnya tidak perlu terjadi, karena pendidikan tinggi di bidang teknik cukup banyak dan ada di mana-mana.

          Presiden Joko Widodo sebenarnya sudah memberikan contoh dan teladan yang patut ditiru oleh aparat pemerintahan, bahkan dari tingkat RT sampai Kementerian. Manajemen blusukan ala Jokowi yang rajin memeriksa proyek Pemerintah pada setiap enam bulan adalah merupakan perilaku pemimpin yang bertanggungjawab terhadap pekerjaannya. Syukur apabila disertai perilaku profesional yang memadai, paling tidak oleh yang mendampingi selama blusukan dan bukan hanya dalam bentuk acara seremonial semata. Kalau bisanya cuma acara menandatangani, gunting pita dan cengengesan saja, ya itulah akibatnya, semuanya rusak melulu hasilnya.

Pemimpin yang DJAKARTA

          Pada tanggal 20 September 2016, penulis membuat artikel di blog dengan judul :”Dicari : Kepala Daerah Yang DJAKARTA”. Penulis berpendapat, agar pembangunan berhasil dengan baik dan tidak cuma tambal-sulam, sebentar rusak dan dibangun lagi, maka diperlukan pemimpin dan aparat yang kualitasnya DJAKARTA. Nama ibukota NKRI dalam ejaan lama tersebut merupakan akronim dari : D = Dedikasi, J = Jujur, A = Apresiatif, K = Kreatif, A = Asih dan Asuh, R= Ramah, T = Tegas, Trengginas, dan Teladan, serta A = Anjangsana.

           Bahwa seorang Kepala Daerah yang layak itu dituntut memiliki dedikasi yang tinggi dan berintegritas karena dia professional. Oleh karena itu, dia harus dan pasti jujur karena integritasnya, dan sebaliknya, dia bisa diduga akan berbuat curang dan KKN kalau tidak punya dedikasi dan integritas yang baik terhadap jabatan yang direbutnya. Untuk mendukung integritasnya, seorang Kepala Daerah dituntut punya watak dan kepribadian yang apresiatif, asih, asuh dan ramah kepada semua warganya. Dia harus kreatif untuk memajukan dan menyejahterakan daerahnya. Tetapi seorang Kepala Daerah juga dituntut tegas dalam keputusan dan tindakannya yang sesuai konstitusi dan perundangan yang berlaku dalam mencapai pemerintahan yang baik dan jujur. Juga trengginas dan memberikan teladan yang baik kepada seluruh warganya. Dan yang sangat penting, Kepala Daerah harus rajin beranjangsana alias blusukan untuk mengamati dan mengawasi perkembangan daerahnya langsung di lapangan. Mutu dan etos kerja aparatur pemerintahan, serta mutu dan perkembangan proyek yang sedang dikerjakan, seharusnya disambangi secara berkala sebagai metode control yang efektif. Dengan metode manajemen blusukan yang sudah dicontohkan oleh Presiden Jokowi dan dilakukan dengan profesionalisme yang mumpuni, diharapkan semua sarana dan prasarana yang dibangun akan bermutu dalam tampilan maupun kekuatannya. Dengan rajin blusukan yang disertai para staf dan pembantunya yang ahli dan professional, akan segera mengetahui kekurangan dan kesulitan yang dialami warganya, misalnya got mampet, sampah berserakan, jalan raya rusak sehingga membahayakan para pengguna jalan dan berbagai masalah lainnya.

Itulah tentunya harapan kita semua! Belanda selama menjajah telah mengajarkan kepada kita selama 3,5 abad. Mestinya mutu bangsa Indonesia jangan sampai mengalami degradasi hanya karena digerogoti oleh watak dan perilaku KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) yang sudah pada tingkat darurat!*****

Jumat, 08 April 2022

DONGENG KUNCI DAN KENCUR

 

Dongeng ini sebenarnya banyak diceritakan oleh para orang tua dan diceritakan secara turun-menurun. Saya menceriterakan kembali dongeng ini versi daerah saya, Gresik – Jawa Timur.

 

      Pada jaman dahulu kala, ada seorang ibu janda yang mempunyai seorang anak gadis cilik bernama Kencur. Ibu itu dinikahi seorang duda kaya yang juga mempunyai seorang anak gadis sebaya Kencur yang bernama Kunci. Ibu janda itu sangat menyayangi putrinya, tetapi agak jahat terhadap anak tirinya, Kunci.

      Suatu ketika, sang ibu ini timbul niat jahat, bersama anaknya ingin menguasai harta suaminya. Dia berpikiran, kalau suaminya suatu saat meninggal pasti hartanya akan jatuh ke tangan si Kunci. Maka timbullah niatnya bagaimana cara menyingkirkan si Kunci.

       Kepada Kunci, suatu hari si ibu ini membelikan gelang emas. Tentu saja Kunci sangat senang dan yang dipikirnya, ibu tirinya mungkin sudah berubah menjadi sayang. Si Kencur yang tidak dibelikan, sering bertanya kepada Kunci : “Bagus ya gelangmu, kok aku tidak dibelikan, ya?”.  Kencur dan Kunci seumur, sehingga besarnya hampir bersamaan. Karena iba, Kunci yang baik hati kemudian memakaikan gelang itu kepada Kencur tanpa sepengetahuan ibunya. Bapak mereka sebagai pedagang, sering pergi ke luar daerah dan terkadang cukup lama waktunya, bisa berhari-hari.

      Si ibu ingin membuat sandiwara bahwa Kunci meninggal karena kecebur tempayan besar di dapur. Suatu malam, ibu itu merebus air di tempayan besar.  Kondisi desa yang belum ada penerangan listrik, begitu beranjak malam mereka pergi tidur satu kamar karena Bapaknya sedang pergi ke luar daerah. Ketika air sudah mendidih pada tengah malam, anak-anak sudah pada lelap tidur, maka dilaksanakanlah niat si ibu sesegera mungkin. Dalam suasana gelap dan sangat tergesa-gesa, digerayangi tangan anak-anaknya, yang memakai gelang kemudian dipondong dan diceburkan ke dalam tempayan yang berisi air yang sedang mendidih bergejolak. Kemudian dia langsung pergi tidur lagi di tempat semula.

      Tetapi alangkah terkejutnya si ibu yang berhati jahat itu. Ketika bangun tidur yang dilihat di sampingnya ternyata si Kunci. Karena penasaran, si ibu lalu pergi ke dapur, yang kemudian gemetar sekujur tubuhnya lalu jatuh pingsan begitu melihat Kencur terbujur mati kaku di tempayan. Ketika siuman, dia ketakutan dan merasa sangat menyesal karena kehilangan anak kesayangan satu-satunya. Dia lalu lari ke hutan, menangis sambil teriak-teriak berulang-ulang :” Mau merebus Kunci keliru Kencur”. Sesampai di hutan pun dia terus menangis, berteriak, berkali-kali dan berulang-ulang :” Mau rebus Kunci keliru Kencur”. Di hutan dia tidak makan dan tidak minum yang layak sampai badannya mengecil dan kemudian menjelma menjadi burung yang selalu berbunyi :” Cuit cuit cuur, cuit cuit cuur!”. Bunyi burung itu selintas mirip teriakan “mau merebus kunci keliru kencur” dan sering terdengar sampai sekarang. Kalau terdengar suara burung seperti itu, dipercayai sebagai pertanda, bahwa di kawasan sekitar burung itu berbunyi, ada kabar orang meninggal dunia.*****

Kamis, 07 April 2022

LALER IJO PINDAH KE KOTA

 

 

Komplek Perumahan Jatikramat Indah I Bekasi, tiba-tiba membuat kebijakan baru. Tertib sampah. Ketua Rukun Warga (RW)-nya mengeluarkan edaran. Semua bak sampah yang dibuat warga di luar pagar rumah, harus tertutup rapat. Tujuannya, agar tidak dimasuki tikus atau diodol-odol anjing atau kucing, dan diusahakan tidak bisa kemasukan air hujan yang bisa menimbulkan bau busuk, Juga menaikkan iuran sampah dan keamanan karena pengambilan sampah akan ditingkatkan menjadi dua kali seminggu. Sebelumnya, hanya sekali diambil dalam seminggu, sehingga sampah sering menumpuk dan kondisi komplek menjadi jorok.

Karena kebijakan itu, komplek perumahan kemudian menjadi bersih. Ketua RW dan jajarannya aktif mengontrol di setiap rumah apakah kebijakannya sudah ditaati warga atau masih ada yang membandel dan memandang remeh. Anjing, kucing dan tikus menjadi gelisah karena tidak bisa lagi mengorek-ngorek sampah di kawasan komplek. Tetapi anjing dan kucing masih bisa diberi makan oleh pemilik atau majikannya. Tikus juga masih banyak akalnya. Yang paling menderita adalah lalat. Biasanya mereka leluasa menikmati sisa makanan dan bertelur di sampah-sampah yang jorok dan kemudian berkembang biak. Sekarang mereka kelaparan dan banyak yang mati dengan sendirinya atau pindah ke daerah lain yang masih jorok.

                                                                                 *****

Adalah seekor lalat hijau jantan yang bernama Laler Ijo yang sehari-hari biasa mangkal di tempat sampah yang ada di halaman rumah Uci. Sekarang, bak sampah itu tertutup rapat. Sehingga beberapa hari ini dia sudah mulai kelaparan. Biasanya, setiap pagi, Laler Ijo itu selalu mengamati Uci ketika berangkat sekolah diantar Bapaknya yang sekalian pergi ke kantor. Laler Ijo mengamati kebiasaan itu sambil menikmati makanan di bak sampah yang selalu melimpah. Oleh karena itu dia timbul pikiran:” Alangkah baiknya kalau aku ikut Uci dan turun di sekolahnya atau di kantor Bapaknya Uci. Aku harus cepat-cepat pindah dari komplek ini”. Sepanjang siang dan malam, Laler Ijo memikirkan bagaimana caranya merealisir siasatnya untuk menyelamatkan hidup. Dia tetap bertahan di halaman rumah Uci sambil mencari dan menikmati makanan seadanya.

Kesempatan pun tiba. Ketika pintu mobil yang dipakai mengantar Uci terbuka, Laler Ijo kemudian terbang menyelinap ke dalam mobil. Dia berusaha sesenyap mungkin agar tidak ketahuan. Selama dalam perjalanan, Laler Ijo berpikir bagaimana nanti dia harus keluar dari mobil. Tetapi ketika sampai di sekolah Uci, dia belum mau keluar karena belum memcium bau masakan atau makanan. Pekarangan sekolah yang bersih memang tidak menyebarkan aroma yang mampu mengundang lalat dan sebangsanya. “Wah, di sini rupanya juga tidak ada makananku, ya!”, pikir Laler Ijo dalam hati. Namun, ketika sampai di kantor Bapaknya Uci, Laler Ijo dengan tenaga yang sudah agak loyo berusaha terbang keluar. Bau sampah dan kuliner membangkitkan selera dan tenaganya lalu dia melesat keluar ketika sopir dan Bapaknya Uci membuka pintu mobil. Dengan suka cita Laler Ijo terbang menuju sumber bau. Sambil dia berkhayal:” Wah, makanan di sini pasti sangat lezat dan melimpah, sehingga aku akan  menjadi gemuk kembali!”.

Ketika melihat bak sampah yang didatangi pemulung dan terlihat lalat-lalat berterbangan, langsung Laler Ijo meluncur ingin bergabung. Tetapi betapa kagetnya Laler Ijo, karena begitu mendekat, langsung diserbu lalat lain di lokasi itu. “Hee…, ada pendatang baru, siapa itu? Tampaknya dia kurus banget!”, kata seekor lalat sambil berteriak. “Iya, he! Dari mana kau, bukan penghuni kawasan sini, kan?”, tanya yang lain. Laler Ijo dikejar dan disenggol-senggol serta diserang beramai-ramai. Agaknya, mereka tidak suka pendatang baru yang tidak dikenal, khawatir keamanan dan ketenteramannya terganggu. Karena ketakutan, ia lari dan menyendiri di tempat yang aman sambil merenungi nasibnya,

Tak disangka-sangka, tiba-tiba dalam kesedihan dan kesendiriannya, lalat betina hijau yang bernama Lalerina terbang mendekat ke Laler Ijo. Kagetlah Laler Ijo dan sempat mau menghindar. Tetapi Lalerina mengejar dan berteriak. “Heei.., kamu jangan takut dan jangan lari! Aku mau menemanimu!”, teriak Lalerina. Laler Ijo lalu diam, dan sambil memperhatikan dengan seksama, dia berujar :”Namaku Laler Ijo, aku dari kampung Jatikramat Bekasi. Aku ingin bergabung dengan kalian, boleh kan?  “Ya, ayo, sama aku, nanti kuperkenalkan pada teman-teman!”, kata Lalerina dengan gaya agak centil. Dengan agak khawatir, Laler Ijo bersama Lalerina terbang menuju tempat sampah yang banyak sisa-sisa makanan yang lezat-lezat.  “Hee..teman-teman, kenalkan ini teman baruku, namanya Laler Ijo”, kata Lalerina dengan ceria.  “Lalerina, itu jadi pacar barumu, ya?”, kata teman-temannya yang tadinya memusuhi, kemudian berubah menyambut dengan ramah.

Jadilah Laler Ijo dan Lalerina berkasih mesra dan selalu pergi bersama-sama. “Dari Bekasi ke Jakarta kan jauh, kok kamu bisa terbang sejauh itu?”, tanya Lalerina dengan penuh keheranan. “Oh, kamu cerdas ya!”, komentar Lalerina setelah mendengar penjelasan Laler Ijo bahwa dia bisa ke Jakarta karena ikut mobil bapaknya Uci yang pergi ke kantor. Caraku….,katanya penuh bangga, dengan menyelinap dan menyelusup ke dalam mobilnya sewaktu pintu mobil terbuka pada saat mau berangkat. “Lalu, kenapa kenekadan itu kamu lakukan? Kamu berkelahi? Atau barangkali kamu rebutan pacar, dan kamu kalah lalu lari?”, tanya Lalerina bertubi-tubi seolah menyelidik. “Eh, bukan begitu! Dengarkan kisah perjalananku dengan baik, aku mau cerita!”, sergah si Laler Ijo. Tadinya aku hidup tenteram dan damai bersama teman-teman  di Komplek Perumahan Jatikramat. Makanan berlimpah dan aneka ragam. Maklum, di lingkungan masyarakat yang jorok dan membuang sampah sembarangan, membuat hidup kita nyaman. Tetapi mala petaka kemudian datang. Pimpinan komplek perumahan mencanangkan sadar kebersihan perumahan dan lingkungan. Kerjabakti secara gotong-royong bulanan seluruh warga digalakkan. Tempat sampah dianjurkan tertutup rapat sehingga anjing, kucing bahkan tikus  pun yang biasanya mengudak-udak tempat sampah menjadi gelimpungan. Ditambah lagi dengan penyemprotan obat anti serangga secara rutin, membuat pemusnahan massal terhadap nyamuk, kecoak, semut, lalat teman kita, dan berbagai jenis serangga lainnya. Komplek Jatikramat Indah I jadi indah dan bersih. Karena malu dan merasa terhina, apalagi takut terbasmi, maka aku berusaha lari ke tempat lain. Dapatlah siasat seperti yang sudah kuceritakan tadi. Ngedompleng mobil bapaknya Uci yang pergi ke kantor sambil mengantar sekolah, maka jadinya, ketemulah kita! Tetapi sebenarnya, aku sempat khawatir dan was-was lho. Karena ketika melesat terbang ke dalam mobil, sopirnya Uci sempat mendengar dengung kepakan sayapku. Syukurlah, Pak Sopir itu tidak berusaha mencariku, dan selamatlah aku sehingga bisa menikmati kota Jakarta bersamamu!”, jelas Laler Ijo dengan panjang-lebar sambil menerawang kembali kisah perjalanannya ketika ingin bertahan hidup.

Lalerina yang menyimak dengan seksama di sampingnya kemudian menambahkan berkomentar. “Iya, memang. Saya pernah mendengar turis asing ngomongin negeri tempat tinggal kita ini. Mereka bilang, negeri ini merupakan Bak Sampah terbesar di dunia, karena semua warganya membuang sampah sembarangan dan seenaknya. Apa saja, di mana saja dan kapan saja, mereka buang begitu saja”, cerita si Lalerina. “Memang kenyataan. Betul sekali kata orang asing itu! Mungkin mereka tidak ingin balik lagi ke negeri kita ini, ya? Karena  nyatanya, turis asing jarang berkeliaran di negeri kita ini. Turis sangat kurang, yang banyak malah lalat bangsa kita, ya!”, tambah si Laler Ijo sambil terkekeh-kekeh, karena sadar, kalau lingkungan bersih, justru dia dan sebangsanya malah yang akan punah. “Tetapi kayaknya, Tuhan  menciptakan kita ini untuk ujian bagi manusia, apakah mampu hidup bersih dan menjaga lingkungannya dengan baik. Bersama air ciptaanNya, dan sampah yang berserakan dan berjibun di mana-mana, diturunkanlah banjir yang mestinya sebagai batu ujian juga”, jelas Lalerina dengan gaya berkhotbah. “Dan lucunya, mereka tidak sadar juga, karena nyatanya sampah masih berserakan di segala penjuru dan jorok. Tetapi, kan, karena sampah itulah, Tuhan telah mempertemukan kita, ya Lalerina!”, ujar Laler Ijo sambi memeluk Lalerina dengan mesra seolah tidak ingin berpisah. “Kalau begitu, kita berharap lingkungan menjadi bersih atau tetap jorok, ya? Kalau menjadi bersih, kita semua barangkali akan punah, kan?” tanya Lalerina seperti khawatir dan ketakutan. “Lingkungan bersih maupun tetap jorok, sebenarnya bukan masalah bagi kita berdua! Peluang hidup kita kan terbatas dan singkat!” jelas Laler Ijo. “Tetapi kan kita tidak harus memikirkan diri sendiri? Apakah rela kalau kita kemudian punah dan hanya tinggal nama?” tanya Lalerina agak sedikit emosi dan marah menanggapi celoteh Laler Ijo. “Sebenarnya, kita ini tidak perlu takut punah! Juga tidak perlu takut tinggal nama! Bukankah dinosaurus yang raksasa itu juga punah dan tinggal sebagai legenda, ya? Biarlah kelak seluruh muka bumi yang bersih, membahas dan membicarakan lalat seperti yang dialami dinosaurus”,  ujar Laler Ijo dengan nada bergurau..

 Laler Ijo dan Lalerina selama dua hari ini asyik memadu kasih dan sempat Lalerina bertelur di beberapa tempat. Sambil menikmati keindahan kota, dua sejoli lalat itu sengaja bertengger di tempat sampah yang berseberangan dengan restoran terbuka sambil menikmati musik yang sayup-sayup terdengar. Tetapi petaka memang tak terelakkan, karena tiba-tiba petugas kebersihan melakukan penyemprotan obat anti serangga ke berbagai penjuru sekitar komplek perkantoran dan kuliner. Laler Ijo dan Lalerina berusaha lari menjauh menyelamatkan diri dengan harapan masih bisa menyambung hidupnya. *****

 

PAPILIO

 

      Kupu-kupu adalah jenis serangga yang sangat  indah dan  menarik. Hewan yang mempunyai  enam  kaki ini termasuk Ordo Lepidoptera dan jumlahnya di seluruh muka bumi ini ada sekitar seratus duabelas ribu spesies. Oleh karena itu penampakannya sangat beragam dan bermacam-macam terlihat dari postur besar-kecilnya kupu-kupu dan perbedaan bentuk serta tata warna sayapnya.

Hewan yang cantik ini banyak digubah dalam lagu anak-anak, dan bahkan sering diabadikan  dalam lukisan oleh para pelukis kenamaan di muka bumi ini. Setiap negara juga sering mengabadikan jenis kupu-kupu kebanggaannya ke dalam penerbitan prangko. Dari kolektor filateli yang menekuni tematik kupu-kupu akan terlihat aneka rupa serangga itu yang berbeda-beda bentuk, besar-kecil dan tata warna sayapnya, Papilio blumei, kupu-kupu bersayap dominan warna hitam dan berhias warna biru berdegradasi dengan warna kuning itu sudah terbang ke sana ke mari. Sepanjang hari, seperti biasanya ia menari-nari, pindah dari satu bunga ke bunga yang lain untuk mengisap nektar bunga-bunga yang ia jumpai.

*****

        Di hari Minggu pagi yang cerah, Papilio sudah berkali-kali mengitari pekarangan rumah Uci. Dilihatnya, Uci sudah menenteng kamera untuk siap membidik para kupu-kupu yang menyambangi bunga-bunga di pekarangannya. Uci yang saat ini duduk di kelas tiga SMP, mengikuti ekskul, ekstra kurikuler fotografi di sekolahnya dan kelihatannya ditekuni dengan besungguh-sungguh. Ayahnya Uci memang suka berkebun. Di halaman rumahnya yang tidak seberapa luas, ditanami aneka macam tanaman bunga yang sangat disukai kupu-kupu dan berbagai serangga yang sejenis misalnya lebah dan kumbang pengisap madu. Berbagai tanaman itu disirami setiap pagi dan diberikan pupuk secara berkala sehingga rajin sekali berbunga dan sangat sedap dinikmati di pagi hari yang cerah, Setelah menyiram dengan cermat, ayah Uci duduk di teras sambil menikmati kopi dan baca koran pagi dengan sekali-sekali mengamati bunga-bunga yang bermekaran.

         Papilio berteriak memanggil teman-temannya. “Hai teman-teman, Uci sudah siap memotret kita. Ayo kita ke kebunnya !”, ajaknya dengan penuh semangat. Dan, dalam sekejap, teman-teman Papilio pada berdatangan dari segala penjuru. Mereka saling menari-nari bersama hembusan angin pagi sepoi-sepoi, berlenggak-lenggok mengikuti lagu “ kupu-kupu yang lucu” yang selalu didendangkan Uci, Sambil menenteng kameranya dan menari berlenggak-lenggok seolah mengikuti tari kupu-kupu yang mengepak-ngepakkan sayapnya. Dengan seksama ia memperhatikan kupu-kupu yang berterbangan. Mereka beraneka ragam, ada yang besar dan ada yang  kecil dengan sayapnya yang beraneka bentuk dan beraneka warna yang gemerlapan ditimpa cahaya matahari pagi. Mereka bagaikan sedang berlomba saling memamerkan keindahan bentuk dan aneka warna sayapnya.

“Hai kawan, kenapa sayapmu ada yang robek ?”, tanya Papilio kepada seekor temannya yang baru datang. “ Oh iya, tadi aku tersenggol duri mawar, gara-gara berebut bunga dengan si lebah”, jawab temannya. “ Lain kali hati-hati ya teman, harus sabar, dan tak usah berebut dengan siapa pun. Ingat ya, kita harus bersahabat baik dengan siapa saja, supaya kita aman dan selamat di mana saja !”, nasihat Papilio bersungguh-sungguh kepada semua teman-temannya dengan suara yang lantang.

Uci terus mengamati pergerakan kupu-kupu itu. Dalam hati ia ingin berseru :” Wahai kupu-kupu nan cantik, berhentilah kalian barang sejenak dan akan kuabadikan kalian dalam gambar untuk kenangan “. Seolah kupu-kupu itu mendengar bisikan hati Uci, karena mereka kemudian saling beraksi di bunga-bunga nan indah sampai Uci datang menghampiri untuk membidik dengan kameranya. “ Wow, Papilio, di lokasi yang bagus. Berhentilah sebentar, aku akan mengambil gambarmu”, seru Uci setengah berbisik. Dan…..jepret, dapatlah gambar yang menarik ketika Papilio dan temannya sedang menyedot nektar kembang sepatu berwarna kuning yang mekar berjejeran dalam satu batang. Sementara membelah di tengahnya ada ulat yang sedang memakan daun dengan lahapnya. Uci membidik berkali-kali dalam posisi yang berbeda-beda dengan maksud mendapatkan dokumen foto yang menarik.

*****

        Siangnya Uci kaget, karena ulat yang tadi pagi diabadikan dalam foto kameranya, hilang  bersama dahan kembang sepatu tempat ulat itu menempel. Dari tukang kebun, Uci tahu, ternyata ulat itu dibuang ke luar pekarangan atas suruhan Ibunya. Dia menangis dan protes, kenapa Ibu pelit dan jahat. “ Kupu-kupu itu kan hanya menumpang untuk hidup dan selalu menghiburku di hari libur, kenapa Ibu usir ? Membuang ulat yang sebentar lagi akan berubah menjadi kepompong, lalu menjadi kupu-kupu, berarti Ibu telah mengusir dia. Pada hal ibu juga suka kupu-kupu!”, omel Uci sambil terus menangis karena iba kepada hewan yang tidak berdosa itu. “ Iya….., tapi kan Ibu takut dan geli “, jelas ibunya dengan perasaan menyesal. “ Ya kalau begitu Ibu jangan lihat taman, biar nggak lihat ulat !”, protes Uci lagi sambil membayangkan ulat tak berbulu yang penampilannya mirip Kereta Rel Listrik atau KRL.

*****

        Beberapa minggu kemudian ada kabar baik buat Uci. Lomba foto mengenai lingkungan hidup yang ia ikuti secara diam-diam dengan menyertakan gambar Papilio berdampingan dengan temannya dan ulat di bunga sepatu itu ternyata memenangkan lomba sebagai juara pertama. Berita kemenangannya yang dimuat di sebuah media massa diperlihatkan kepada Ibunya, disertai pesan yang mengancam :” Ibu jangan mengusir ulat-ulat lagi ya, Bu! Kupu-kupu itu adalah sahabatku. Ibu tidak boleh jahat kepada sahabatku, ibu harus menyayangi!”.

        Ibu Uci memperhatikan dan membaca sejenak, tiba-tiba merasa kagum dan memeluk erat-erat putri kesayangannya itu sambil berucap :” Ibu minta maaf ya sayang, selama ini Ibu yang selalu membuang ulat-ulat itu karena jijik, takut dan geli. Mulai saat ini Ibu tidak akan mengganggu ulat-ulat itu lagi”. Mendengar janji itu, Uci sangat berterimakasih kepada Ibunya sambil menciumi pipinya berkali-kali disertai gumaman lirih, terimakasih Papilio, terimakasih semua kupu-kupu yang lucu, kalian telah menginspirasi dan menghadiahi aku. “Foto  mana yang kamu ikutkan lomba, sayang?,” tanya Ibunya dengan riang bercampur bahagia dan bangga. Maka segeralah dibuka map yang berisi foto bertema “ Bunga Sepatu, Ulat dan Kupu-kupu” dalam ukuran besar lalu ditunjukkan kepada Ibunya, Dan betapa terkejutnya sang Ibu melihat gambar ulat ukuran besar yang menyerupai KRL. Sang Ibu menjerit dan girap-girap sambil memekik :” Hi….,ampun, ampun!”. Tetapi sambil menari-nari bagaikan kupu-kupu disertai menertawai Ibunya yang ketakutan, Uci dengan riang melantunkan lagu ciptaan Ibu Sud yang sangat terkenal itu :

“ Kupu-kupu yang lucu

Ke mana engkau terbang “,

dan sereterusnya sampai berulang-ulang, dengan suaranya yang merdu. Bahkan dia tambahkan syair lagunya seolah menyanjung hewan kupu-kupu :

                                                        “ Kupu-kupu yang baik

                                                          Aku terimakasih

                                                           Kau berikan hadiah

                                                           Dari foto-fotomu

                                                                       Sambil bersantai

                                                                      Kuabadikan kamu

                                                                       Janganlah engkau bosan

                                                                       Main di tamanku”.

Uci terus bernyanyi dan menari-nari sambil menghibur Ibunya yang belum kunjung berakhir menahan kegelian.*****

Cerita anak ini dibuat dalam rangka menyambut Hari Cerita Anak Internasional yang mulai diperingati pada tanggal 2 April 1967.



Selasa, 08 Februari 2022

Surat Orang Utan dan kawan-kawan kepada Presiden Jokowi

 Cerpen ini dimuat di majalah Clapeyronmedia, sebagai tulisan ke 4 yg terbit pada bulan Februari 2022  

        Dua sejoli Orang Utan yang biasanya bergelayutan di puncak pohon besar itu berjalan bergandengan di daratan bak penganten baru yang sedang berbulan madu. Sesekali mereka berlompatan ke pohon besar, bergelantungan dan tetap berduaan. Mereka berdua sangat bahagia karena beberapa waktu terakhir ini terhindar dari kebakaran hutan dan penebangan pohon yang biasanya suaranya berdesing memekakkan telinga semua penghuni hutan. Si Jantan memulai pembicaraan. “ Dinda, hidup kita ini terancam, lho! Coba kau pikir! Manusia  di bumi ini semakin banyak, berkembang pesat sekali dan semakin maju serta pintar. Mereka membutuhkan segala macam dan banyak sekali. Mereka butuh lahan untuk persawahan  dan perkebunan kelapa sawit juga kayu-kayu besar hunian kita ini. Lalu mengincar tanah kita, membabat dan membakar hutan tempat tinggal kita ini seenaknya “, kata si Jantan penuh emosi.

“ Eh kanda, kau bilang ini tanah kita?”, tanya si Betina. Si Jantan langsung menyambar penuh keyakinan :” Ya, iyalah! Tuhan menciptakan alam ini seisinya. Sebelum didatangi manusia, pasti nenek moyang kita lah yang lebih dulu menghuni hutan ini secara turun-menurun. Sayangnya, pertumbuhan perkembang-biakan kita ini lamban, sedangkan manusia cepat sekali, maka kita terdesak dan terusir”. “Tetapi, ada orang pintar yang berpendapat, konon manusia itu dulunya merupakan evolusi dari bangsa kita lho, Kanda, sehingga boleh dibilang kita ini bersaudara dengan manusia”, celetuk si Betina meredam si Jantan yang semakin emosional. “Ya, malah ada bukti, bahwa DNA kelompok kita ini hampir mirip dengan DNA manusia, Sehingga pendapat orang pintar tadi mungkin ada benarnya, walau pun disanggah oleh para ilmuwan lain, terutama para ahli agama, karena pendapat itu bertentangan dengan kitab suci agama apa pun! Oh ya, saya punya pertanyaan , Dinda harus jawab”, kata si Jantan mulai mengendorkan emosinya. “Kalau orang yang tinggal di desa, namanya kan orang desa. Kalau orang yang tinggal di kota, namanya apa ya?”, tanya si Jantan, dan langsung dijawab oleh si Betina :”Ya, orang kota lah!”. “Kalau orang yang tinggal di kampung?”, tanya si Jantan kemudian. Juga langsung dijawab oleh si Betina :”Itu orang kampung, namanya”. “Nah, kalau orang yang tinggal di hutan, namanya apa?”, tanya si Jantan sambil mencolek pipi si Betina dengan genit. “Haa, itu kita ya, Kanda. Orang Utan, sebagaimana mereka memberi nama kepada kelompok kita”, jawab si Betina sambil tertawa terkekeh penuh bangga. “Berarti ada pengakuan dari mereka tho?”, tegas si Jantan. “Tetapi, bagaimana dengan ulah manusia yang terus menebangi hutan tempat tinggal kita ini, lalu membakari seenaknya, Kanda?”, tanya si Betina. “Pada hal, dunia sudah mengingatkan, lho! Untuk menjaga iklim dan lingkungan seluruh jagad, negara yang memiliki hutan agar menjaga kelestariannya. Jadi, hutan kita ini mestinya harus dijaga, bukan dibabat dan dibakari seenaknya!”, jelas si Jantan. “Masalahnya, kita ini di negeri yang masih miskin, sehingga kreativitasnya masih sebatas membabat kekayaan hutannya”, kata si Betina dengan nada seperti mencibir. “Ya, memang susah. Negara kaya membutuhkan berbagai macam barang atau produk dari tanah yang kita huni ini, sehingga ya saling membutuhkan, dan tidak terbendung”, jelas si Jantan. “Wah, kita bakal musnah dong, nanti hanya sebagai tontonan di kebun-kebun binatang saja. Kita harus segera bertindak, jangan diam saja, Kanda!”, usul si Betina. “Memang, saya punya ide. Saya akan mengumpulkan para tokoh penghuni hutan ini untuk membahas masa depan kita”, ujar si Jantan dengan optimis, bahwa pertemuan harus segera terlaksana.

          Maka dibuatlah pengumuman yang ditulis pada daun-daun yang lebar, dipampang pada batang pohon-pohon besar mengenai undangan rapat itu. Juga dibuat spanduk dari dedaunan dan dibentangkan di pohon-pohon yang berisi undangan rapat dengan menyebut tempat dan waktu pertemuan. Tentu saja, undangan versi tutur-tinular yang paling cepat sampai kepada semua hewan penghuni hutan. Berbagai jenis kera, burung, ular dan berbagai binatang melata lainnya sampai berbagai jenis serangga menyanggupi untuk hadir dalam pertemuan yang sangat penting tersebut. Pada hari yang ditentukan, perwakilan penghuni hutan sudah berkumpul di kawasan tempat pertemuan. Bahkan sudah ada yang menginap berhari-hari di atas dan di bawah pepohonan yang rindang dan asri.

          Pertemuan pun dimulai. Di dahan pohon besar, si Jantan Orang Utan sambil duduk berwibawa, membuka pertemuan. “Kawan-kawan penghuni hutan yang berbahagia,…..apakah kita saat ini sedang berada di tempat yang tenteram dan damai?”, tanya si Jantan Orang Utan. Yang dijawab dengan serempak bersahutan :”Ya, kita semua nyaman dan damai!”. “Tetapi sebenarnya, kita ini hidup terancam. Coba kita lihat, manusia setiap hari membabat pohon-pohon hunian dan makanan pokok kita. Mereka tak terbendung dan semakin merajalela. Adakah pemikiran dan usul kalian?”, teriak si Jantan Orang Utan. Burung Enggang, yang merupakan spesies aneh karena burung betinanya bersama  anaknya bersarang di dalam rongga pohon langsung menyampaikan kekhawatirannya. Seolah mewakili suara burung Pekakak yang paling banyak diburu orang untuk dikoleksi, juga burung Mina yang brilian serta burung-burung lain yang banyak jumlahnya, berujar :”Ya, Kanda Orang Utan, kami semua khawatir akan punah karena diburu secara serampangan, dan terhempas karena alam hidup kita terampas oleh manusia”. Demikian juga hewan yang lain, semua mendukung pernyataan burung Enggang. “Bagaimana kalau kita lawan mereka?”, usul Buaya dan Ular Cobra hampir serempak bak jagoan yang hebat. “Maksud kalian?”, tanya si Jantan Orang Utan. “Ya, kita lawan serempak dan bersatu, kita serang dan usir mereka begitu datang ke tempat kita ini!”, tandas si Buaya. “Semua yang punya kemampuan bela diri agar ditunjukkan kehebatan kita kepada mereka!”, kata si Ular Cobra bagaikan sesumbar dan menghasut sejawatnya di hutan Kalimantan yang lebat itu.

         Orang Utan yang biasa membuat sarang dari ranting dan cabang kayu di puncak pohon dan sering berteriak lantang kalau marah dan mengamuk, tertawa terbahak-bahak. Lalu ucapnya :”Pernah suatu ketika, sewaktu kalian semua lari, saya justru terus bertahan di puncak pohon besar. Saya melempari mereka dengan dahan dan ranting dengan harapan agar mereka mengurungkan niatnya, Yang terjadi malah pohon itu tetap ditebang dengan peralatan modern yang suaranya menderu-deru memekakkan telinga. Ketika pohon-pohon pada tumbang saya tidak sempat lari. Rupanya saya ikut roboh, terpelanting dan pingsan tertimpa pohon. Setelah siuman, tahu-tahu saya sudah di kota, dalam kerangkeng besi. Untung ada pecinta lingkungan dan hayati yang tahu dan kemudian membantu sehingga saya dikembalikan ke hutan ini, ketemu lagi dengan kalian”. Bekantan, sejenis kera yang memiliki hidung berdaging panjang dan Gibbon yang baru dilepas-liarkan karena sempat dipelihara oleh orang kaya di kota, tampak termenung dari awal. Dia nampaknya ditugasi oleh kelompoknya untuk mengikuti pertemuan. “Kok kalian berdua bengong saja! Ada yang kalian pikirkan atau ada usul?”, tanya si Jantan Orang Utan. “Ya, Kanda!”, kata si Bekantan dengan suara memelas. “Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo atau yang dikenal dengan Jokowi, malah mau memindahkan ibukota RI ke wilayah kita ini”, jelasnya. “Waah, di mana?”, teriak semua yang hadir hampir serempak. “Rencana sih di Kalimantan Timur”, sahut si Gibbon. “Oh, jauh ya dari tempat kita”, celetuk si Jantan Orang Utan. “Tetapi pasti orang-orang akan berdatangan ke wilayah kita ini, membangun segala macam lalu kita akan tergusur dan mungkin punah dari muka bumi”, gerutu para hewan yang lain dengan perasaan kaget dan khawatir yang teramat sangat. “Eh, saya dengar, Presiden Jokowi itu orang hutan juga ya?”, tanya si Burung Hantu asal nyeletuk. “Hee, jangan sembarangan kau ucap, ya! Nanti kamu bisa ditangkap karena termasuk mencemarkan nama baik dan menghina”, kata si Jantan Orang Utan menyadarkan. Tetapi si Burung Hantu buru-buru menjelaskan lebih lanjut :”Bahwa Presiden Jokowi itu seorang Sarjana Ilmu Kehutanan bertitel Insinyur atau Ir. Sehingga bisa kita  bilang orang hutan, orang yang tahu segala seluk-beluk tentang hutan. Gitu lho, maksud saya! Dan lagi, sewaktu menjadi Gubernur DKI Jakarta , pak Jokowi itu pernah melarang “Topeng Monyet” lho! Mencari makan kok menyiksa hewan, sungguh tidak berperi-kehewanan, begitu kira-kira pola pikir pak Jokowi”, jelas si Burung Hantu lebih lanjut bak seorang guru menerangkan kepada murid-muridnya. “Baik kawan-kawan, saya punya usul! Menyongsong ibu kota baru NKRI di wilayah kita ini, mari kita kirim surat kepada Presiden Jokowi. Mari kita bikin usul rame-rame!”, ujar si Jantan Orang Utan dengan  yakin seolah pandai menulis surat. “Hayo mari kita rumuskan bersama! Burung Hantu, cari ranting yang runcing untuk menulis! Kera, kau cari daun-daun lebar yang bisa dipakai untuk menulis!”, lanjut si Jantan Orang Utan, sepertinya tidak sabar lagi. “Ya, mari kita mulai!”, ujarnya sambil menerawang ke atas dan jari telunjuk yang kanan ditaruh di jidat bak pemikir yang sedang memeras otaknya. “Kepada Presiden Jokowi di Jakarta. Kami penghuni hutan pulau Kalimantan, mendengar, bahwa ibukota NKRI akan pindah dari Jakarta ke kawasan kami, ya Pak? Kalau ya, kami semua senang tetapi takut jika kami nanti tergusur dan punah, Pak! Lalu apa kata dunia? Oleh karena itu kami punya usul, agar kawasan kami ini tetap terjaga, hutan serta kehidupan kami yang unik ini! Mohon pak Presiden pikirkan agar dibuat jalanan semacam tembok Cina yang meliuk-liuk sepanjang hutan dan sungai, tetapi terlindung atas-bawah agar kawan-kawan saya yang besar maupun yang kecil-kecil tidak bisa masuk mengganggu manusia. Biarlah manusia dari segala penjuru dunia melalui jalanan itu bisa menyaksikan kami dengan kedamaian dan saling membutuhkan penghidupan serta hiburan. Perpindahan penduduk dan pertumbuhannya juga mestinya terkendali dengan baik, dan huniannya tertata dengan baik supaya bisa menarik para wisatawan karena lingkungan yang indah. Juga sungai-sungai sebaiknya ditata dengan bersungguh-sungguh sehingga bukan lagi sebagai tontonan banjir, tetapi sebagai sarana pariwisata alam untuk bercengkerama dengan kami. Sebagai kawasan ibukota, mestinya banyak anggota TNI dan POLRI yang menjaga, dan bersamaan dengan itu mohon ikut menjaga kelestarian hutan, dan mengamankan kami sebagai penghuninya. Terimakasih Bapak Presiden, mohon maaf kami tidak bermaksud menggurui, melainkan hanya sekedar sumbang saran. Hormat kami, atas nama penghuni hutan Kalimantan, tertanda “Orang Utan”.

          Ternyata semua tokoh penghuni hutan yang hadir ikut mencatat surat yang didiktekan oleh si Jantan Orang Utan. “Hee….., apa yang kalian tulis, Buaya dan lain-lain yang juga mengumpulkan naskah? Huruf apa yang kalian tulis?”, tanya si Jantan Orang Utan dengan bangga karena semua mendukung langkahnya. “Ini huruf-huruf  di lingkungan kami, Kanda! Biarlah kita kirim saja, siapa tahu di Pemerintahan ada yang paham tulisan kami ini”, jelas mereka saling mendukung. Dengan penuh suka-cita dan mengucap terimakasih kepada semua yang hadir, si Jantan Orang Utan menutup pertemuan yang sangat bersahabat tersebut. Tetapi sebelum bubar, tiba-tiba si Kera tarik suara dengan lantang :”Kanda, kebetulan saya menemukan bekas amplop-amplop besar dan koran-koran milik petugas atau pejabat pembabat hutan yang ditinggal di hutan. Kita bisa pilih huruf-hurufnya untuk dimanfaatkan berkirim surat agar bisa sampai ke tangan pak Jokowi dengan selamat!”.

          Surat dari dedaunan itu segera dilipat rapi dan kepada Kera yang lincah, bersama Anjing sebagai pengawal, diminta untuk mengirim atau menaruh surat itu ke Kantor Pos. Atau meletakkan di Kantor Pemerintahan, atau markas TNI/ POLRI dan mana saja yang terdekat, dengan harapan bisa disampaikan kepada Presiden Joko Widodo.*****

Senin, 03 Januari 2022

KALI LAMONG

 Opini dalam bentuk puisi ini telah dimuat di majalah Clapeyronmedia yang diterbitkan oleh Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan - Universitas Gajah Mada. Puisi ini saya maksudkan untuk menyoroti desa saya yang selalu kebanjiran pada setiap musim hujan.


Aku lahir dan dibesarkan di desa Bulurejo-Benjeng

Masuk wilayah Kabupaten Gresik, sekarang

Aku tinggal di sana sampai tahun 1962,

        waktu aku baru naik ke kelas enam Sekolah Dasar

Pada rentang masa itu

Aku sering mandi bersama teman-teman di Kali Lamong

Yang kering di waktu musim kemarau dan dipakai tempat main bola,

tetapi air sering meluap ketika musim hujan tiba

 

Sewaktu aku di kelas dua SD tahun 1958, pernah terjadi banjir besar

yang juga menggenangi sekolahku, sehingga diliburkan

Waktu itu ada kabar dari Pak Lurah yang disampaikan berkeliling

Konon ada Ular Sakti yang selesai bertapa di Kali Lamong

Sekarang Ular itu berjalan merayap pindah dari Kali Lamong,

ke Telaga Rayung yang letaknya sekitar limaratus meter dari Sekolah

 

Setelah dua hari, banjir kemudian surut

 jalan raya depan sekolah terbelah, berbentuk seperti selokan

Konon, jalan itu yang telah dilewati oleh si Ular Sakti

yang selama perjalanan tidak mau terlihat manusia

Dan sepertinya benar juga, karena banyak orang melihat, membuktikan

Seperti ada bekas balok yang lewat dari Kali Lamong ke Telaga Rayung

 

Nyatanya, banjir terjadi berkali-kali setiap tahun

Bupatinya yang memimpin juga silih berganti

Tetapi tak satu pun yang mampu menanggulangi banjir

Terakhir dan terparah terjadi pada Desember 2020,

setelah rakyatnya berpesta memilih Bupati dan Wakil Bupati baru

 

Sebentar lagi bulan Desember 2021 akan datang menjelang

Akankah pemimpin baru mampu menangkal dan menanggulangi banjir?

Atau akan setali tiga uang alias sama saja dengan yang dulu-dulu?

Selamat bekerja Bupati dan Wakil Bupati baru!

Rakyat menanti hasil kerja dan karya Anda! *****

 

Bekasi, Desember 2020

Senin, 01 November 2021

INDONESIA BANGKIT MELAWAN KORUPSI?

Artikel ini telah dimuat di majalah Clapeyronmedia yang diterbitkan oleh Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan Universitas Gajah Mada


        Beberapa waktu terakhir ini, ramai mahasiswa dan aktivis masyarakat berdemonstrasi menuntut agar pegawai KPK yang dinyatakan tidak lulus tes wawasan kebangsaan (TWK), bisa diaktifkan kembali. Mereka menganggap bahwa yang dinyatakan tidak lulus dan dinon-aktifkan, sebenarnya adalah para sosok yang gigih memberantas korupsi. Indonesia memang mengalami darurat korupsi, oleh karena itu masalah korupsi merupakan bahasan yang selalu menarik.

       Pada tahun 1995 penulis sempat mengikuti Kursus Pimpinan Minyak dan Gas Bumi (Suspi Migas) yang diselenggarakan oleh PT Pertamina (Persero) bersama Lemhannas. Salah satu materi yang sangat penting untuk diingat dan dicamkan, bahwa setelah Perang Dunia II selesai, kekayaan alam Indonesia itu terkaya ke-lima di dunia. Itu terjadi pada tahun 1945 ketika kita menyatakan Proklamasi Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus oleh Soekarno-Hatta. Sebagai mawas diri, bagaimanakah kondisi bangsa kita ketika merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan  yang ke -76 pada tahun 2021? Ternyata Indonesia masih termasuk negara berkembang. Sempat dikategorikan sebagai negara maju, tetapi turun lagi statusnya, hanya karena terserang wabah pandemi Corona yang terkenal dengan Covid-19. Hampir semua negara di dunia memang mengalami nasib yang sama. Sebagai pembanding, mungkin kita bisa berkaca terhadap negara Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Negeri yang baru merdeka pada tanggal 1 Oktober 1949 itu, saat ini sudah menjadi negara adi daya (super power) baru dalam segala hal menyaingi Amerika Serikat dan Russia. Lalu, apa yang terjadi dengan bangsa kita? Voltaire, pemikir bangsa Perancis pernah menyatakan :” Bukan kelangkaan uang, tetapi karena kelangkaan manusia berbakatlah yang membuat suatu bangsa menjadi merana “.

Sebagai negara berpenduduk lebih dari 250 juta jiwa, apakah benar kita mengalami kelangkaan manusia berbakat? Apabila mengambil tolok-ukur dari cabang olah-raga sepakbola sebagai contoh, barangkali bisa dianggap benar. Indonesia pernah mengalami penjajahan Portugis, Inggris, Belanda dan Jepang saling bergantian dalam waktu yang cukup lama, mestinya bisa mewarisi supremasi keunggulan dalam permainan olah raga sepakbola. Tetapi nyatanya, sangat jauh tertinggal bila dibanding dengan negara lain. Belum lagi masalah lain yang menyangkut ekonomi, teknologi dan lain-lain, masih sangat jauh tertinggal. Kenapa ini bisa terjadi? Apakah memang tidak ada pembangunan di negeri ini?

Ekososiofisika

       Sepak terjang suatu bangsa dapat diibaratkan seperti pergerakan suatu benda dari suatu titik ke ketinggian tertentu pada sudut kemiringan tertentu. Benda itu akan sampai ke tujuan yang diinginkan sangat bergantung pada bobot benda itu, sudut kemiringan bidang yang dilalui terhadap bidang horizontal, kekasaran atau friksi permukaan bidang yang dilewati dan juga kecepatan gerak benda itu. Keberadaan suatu bangsa juga demikian. Tidak ada satupun bangsa di dunia ini yang ingin statis, jalan di tempat. Semuanya pasti ingin membangun dan ingin mengalami kemajuan, walau pun hasilnya berbeda-beda. Ada yang maju dengan pesat dalam waktu yang relatif singkat, tetapi bahkan ada yang malah semakin terpuruk. Teori ilmu fisika yang diadopsi di atas, dapat juga dihubungkan dengan perjalanan suatu bangsa dalam merumuskan dan menapaki masa depannya. Bagaimanakah perjalanan suatu bangsa dalam mencapai kemajuan? Sejarah membuktikan, bahwa setiap bangsa berbeda-beda cara menempuhnya dan berbeda-beda pula tingkat keberhasilannya. Mereka tergantung pada modal dasar yang dimilikinya, mutu Sumber Daya Manusia (SDM) yang merupakan perancang dan sekaligus sebagai pelaksana, derajad yang ingin dicapai (tingkat pertumbuhan ekonomi dan GNP yang ingin dicapai), friksi yang ada di dalam negeri dan pengaruh lingkungan dunia, percepatan gerak, daya nalar serta etos kerja bangsa itu.

Upaya membangun jiwa dan raga bangsa untuk mencapai Indonesia Raya sebagaimana dinyatakan dalam lagu kebangsaan Indonesia Raya serta usaha memajukan kesejahteraan umum sebagaimana dinyatakan dalam Pembukaan Undang-undang Dasar 1945, adalah merupakan cita-cita luhur dibentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ibarat benda, itulah arah gerakan yang ingin dituju benda itu, betapa luhur cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana dituangkan di dalam kedua pusaka tersebut.

Tetapi, pembangunan yang kita laksanakan belum berhasil seperti yang diharapkan. Bukan karena kelangkaan uang dan bukan juga karena kelangkaan SDM berbakat yang kita alami. Melainkan karena friksi penghambat yang demikian besar dan berat yang dialami oleh bangsa Indonesia. Friksi yang demikian kasar telah menggerogoti derap dan laju pembangunan ekonomi dan sosial, sehingga menjadi terhambat mutu maupun pertumbuhannya. Friksi itu adalah berupa korupsi. Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo yang merupakan tokoh arsitek pembangunan ekonomi Orde Baru pernah menyebut, bahwa 30 % dana pembangunan dikorupsi sehingga berakibat timbul kemerosotan dalam ekonomi, sosial, politik dan hukum. Bahkan, Fahmi Idris, tokoh demonstran Angkatan 1966 yang pernah menjadi Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi semasa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, mengakui pada masanya, bahwa Indonesia pernah menduduki peringkat ke-5 dari 98 negara-negara terkorup di dunia (Suyatno dalam Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, 2005). Kondisi saat ini mungkin tidak beranjak jauh.

Korupsi adalah identik dengan gejala masyarakat yang ingin serba instant. Mereka inginnya semua harapan dan impiannya bisa tercapai dalam waktu cepat, tanpa banyak biaya, tenaga, pikiran, jerih payah dan keahlian. Dalam hal ini, perilaku korupsi tidak memiliki hubungan atau relasi dengan produktivitas. Tidak akan ada output yang bermutu dan bernilai dari tindakan dan perilaku korupsi. Korupsi bisa dimaknai pula sebagai penyalahgunaan kekuasaan dan/atau kewenangan yang melebihi batas yang diijinkan, sehingga berkaitan pula dengan pelanggaran hak atas orang lain secara melawan hukum. Korupsi juga merupakan tindakan desosialisasi dan anti sosial, yaitu suatu tindakan atau perilaku yang tidak mempedulikan hubungan-hubungan dalam system sosial. Mengabaikan kepedulian sosial adalah salah satu ciri dari perbuatan korupsi, dan contoh mutakhir justru dilakukan oleh Menteri Sosial Juliari P. Batubara yang saat ini sudah menghadapi proses hukum.

Korupsi bisa dipandang dari berbagai aspek, bergantung pada disiplin ilmu yang pergunakan. Kasus memalukan yang ramai dipergunjingkan dan sedang ditangani KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) adalah Bupati Probolinggo yang terperosok dalam kasus jual-beli jabatan, lalu Bupati Banjarnegara yang tersandung dalam kasus suap pengadaan barang dan jasa.

       Oleh karena itu, sudah saatnya, Indonesia harus bangkit untuk melawan korupsi lebih keras dan bersungguh-sungguh lagi agar visi dan misi NKRI sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 bisa tercapai dengan baik dan cepat. Menurut Ustadz Abu Sangkan, untuk memberantas korupsi harus dimulai dari pemimpin dan para elitnya, termasuk dalam hal ini elit politik. Alhamdulillah, Presiden Joko Widodo telah memberi teladan yang baik. Dua kali menikahkan putra/putrinya tidak menggunakan Istana Kepresidenan dan tidak mau menerima kado atau bingkisan. Bahkan, setiap gratifikasi yang diterima selalu dilaporkan kepada KPK. Selanjutnya, Lembaga Pemeriksa seperti BPK, BPKP dan Internal Audit di setiap instansi/BUMN/BUMD diharapkan mampu mengawal Indonesia Bangkit Melawan Korupsi yang sudah merupakan situasi darurat dewasa ini. Kesadaran bangsa Indonesia untuk Bangkit Melawan Korupsi , juga mutlak diperlukan untuk secara bersama berhasil mencapai kejayaan pada tahun 2045 ketika kita merayakan HUT Kemerdekaan NKRI yang ke seratus tahun nanti!*****

Rabu, 06 Oktober 2021

BANK SAMPAH

(Opini saya dalam bentuk Cerpen telah dimuat di majalah clapeyronmedia yang diterbitkan oleh Fakultas Teknik Sipil Universitas Gajah Mada, sebagai sumbang saran penanganan sampah di tanah air.)

Sampah adalah masalah yang serius di negeri ini sepanjang masa. Belum ada seorang pemimpin dalam strata apa pun yang bisa menangani sampah dengan baik dan menjadi panutan seluruh rakyat dengan kesadaran yang terpuji. Setiap kali ada hujan deras dalam waktu lama, banjir yang timbul pasti selalu disertai gerombolan sampah. Sehingga membuktikan, sampah yang dibuang sembarangan adalah merupakan salah satu penyebabnya.       

Di lingkungan Rukun Warga 03 Jatikramat Bekasi, mungkin hanya pak Adji yang tidak mempunyai bak sampah di depan rumahnya. Dia sangat risih terhadap tetangganya yang rata-rata punya bak sampah yang dibuat dari tembok dengan ukuran 1 x 1 x 1 meter kubik. Tempat sampah yang terbuka pada bagian atas atau terbuka di bagian depannya, menebarkan bau tidak sedap apalagi di waktu musim hujan, dan pastinya sangat merusak pemandangan. Belum lagi kalau sampahnya diodol-odol anjing atau kucing dan diewer-ewer di sepanjang jalan. Pak Adji punya cara yang manusiawi, sopan dan tetap menjaga kebersihan dengan penuh tanggungjawab. Dia tanamkan cara yang digariskan kepada keluarganya, bahkan sering dengan amarah. Khusus mengenai bak sampah, pernah terjadi pertengkaran dalam rumah tangga yang nyaris hebat. Pernah pak Adji naik pitam, karena sepulang bekerja, mendapati isterinya menyuruh tukang bangunan membuat bak sampah di depan menyatu dengan pagar di bagian sebelah kanan. Dia marah kepada isterinya dan menyuruh tukang bangunan untuk segera membongkarnya. “Kan kamu pernah marah-marah mengomeli tetangga. Gara-gara hujan deras dan agak lama, lalu banjir dan sampah serta belatung berhamburan sampai teras rumah. Cara kita sekarang inilah yang sesuai hadis Rasulullah, bahwa kebersihan itu setengah daripada iman. Ikuti cara yang baik yang diatur suami!”, kata pak Adji dengan nada sangat marah disaksikan ketiga anaknya dan tukang bangunan yang mengerjakan pembuatan bak sampah itu.

       Cara menanggulangi dan mengelola sampah yang diterapkan pak Adji adalah menampung sampah di keranjang-keranjang sampah di setiap ruangan dalam rumah dengan kantong plastik. Kalau sudah penuh kemudian dikumpulkan di tong plastik yang lebih besar dan ditaruh di teras rumah atau garasi. Sampah dalam kantong-kantong plastik itu dikeluarkan ketika truck sampah datang mengambil pada hari tertentu seminggu sekali. Dengan cara itu maka depan rumah pak Adji akan tampak selalu bersih.

Karena banyaknya kasus sampah terserak di jalanan oleh ulah anjing, kucing dan tikus, Ketua RW 03 suatu saat membuat edaran. Setiap bak sampah diwajibkan supaya dibuatkan tutup dan tetap dapat mudah dibuka oleh petugas pengangkut sampah ketika akan diangkut ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Rumah pak Adji suatu ketika didatangi Pengurus RW 03, mempertanyakan kok tidak kelihatan ada bak sampah. “Bagaimana pengelolaan sampahnya, Pak?” tanya Ketua RW 03 dengan disaksikan pengurus yang lain. Dengan panjang-lebar pak Adji menjelaskan metode pengelolaan sampah yang diterapkan di rumahnya dengan menunjukkan bukti-bukti pelaksanaannya. Mereka manthuk-manthuk dan manggut-manggut , agaknya bisa memahami dengan baik penjelasan pak Adji.

Suatu ketika, Ketua RW 03 membuat edaran ke seluruh warga. Di tingkat RW 03 akan diadakan Bank Sampah yang diharapkan didukung warga karena disamping dalam rangka menanggulangi masalah sampah, juga menjadikan sampah masih mempunyai nilai ekonomi. Dalam edaran itu disertai daftar jenis sampah yang bisa disetor ke Bank Sampah berikut nilai harga satuannya. Karena keluarga pak Adji termasuk yang produktif dalam menciptakan sampah, maka dia memutuskan untuk ikut serta mensukseskan penyelenggaraan Bank Sampah tersebut. Keluarga pak Adji yang terdiri atas isteri dan ketiga anaknya, disuruh mulai memilah sampah sesuai kelompoknya. Tertib sampah di rumah ini bukan main sulitnya ketika mulai diwacanakan. Berkali-kali pak Adji mengomeli anggota keluarganya. “Siapa yang minum aqua ini? Dimana seharusnya letak bekas botolnya, segera taruh di kelompoknya!”, begitulah antaralain  hardik pak Adji hampir setiap hari untuk mendidik keluarganya agar tertib sampah. Edaran mengenai Bank Sampah itu kebetulan bersamaan dengan pekerjaan renovasi rumah pak Adji. Atap rumahnya yang banyak dimakan rayap sejak lama, dibongkar total diganti dengan baja ringan. Bongkaran kayu dan potongan besi banyak berserakan di sana-sini. Sambil mengawasi para tukang, pak Adji pelan-pelan mencabuti paku dan mengumpulkan potongan-potongan besi dan dimasukkan ke dalam karung-karung plastik bekas beras. Dengan membayar jasa abang becak, sampah besi, plastik, kardus, kantong semen dan kertas, termasuk kertas koran disetor ke Bank Sampah. Sebagai peserta, pak Adji mendaftarkan nama anaknya yang paling bungsu yang waktu itu sedang duduk di kelas dua Sekolah Menengah Atas (SMA). Dengan dibantu abang becak langganannya, sampah yang sudah terpilah sesuai kelompoknya disetor secara rutin setiap bulan ke Bank Sampah yang lokasi penimbangannya di kawasan pekarangan Graha RW 03 yang tidak begitu jauh dari rumah pak Adji.

Sampai beberapa bulan, keluarga pak Adji masih belum paham apa itu yang namanya Bank Sampah. Isteri dan anak-anak pak Adji masih terheran-heran dengan perintahnya mengelompokkan sampah dengan tertib dan sering disertai dengan marah-marah. Pak Adji tetap konsisten kepada langkah yang diambil. Merapikan dan memilah sampah-sampah di rumah adalah menjadi hobi  dan kesibukan yang lain sebagai hiburan di usia pensiunnya. Yang selalu ditekankan kepada keluarganya berulang-ulang, adalah :”Kebersihan itu setengah daripada iman. Kita selalu menghasilkan sampah yang aneka ragam dan banyak jumlahnya. Sampah ternyata masih mempunyai nilai ekonomi, tetapi kita tidak mencari penghidupan dari sampah.  Ingat, hanya semata-mata dalam rangka tertib sampah di rumah dan menjaga lingkungan!”.                          

       Suatu hari, anak pak Adji yang bungsu merengek minta dibelikan tiket nonton sepak bola di Asian Games 2018 yang akan bertanding di Stadion Wibawamukti Bekasi. Dia ini gadis, tetapi senang menonton sepak bola. Apalagi, seperti remaja lainnya akhir-akhir ini banyak menggandrungi segala sesuatu yang berbau Korea Selatan. Musik, makanan, mode rambut dan pakaian, film dan sinetron, bahkan untuk barang elektronik banyak yang mengagumi produk Korea Selatan. Pak Adji lalu pasang siasat. Momentum demam Korea Selatan bisa dimanfaatkan untuk memulai tertib sampah yang bersungguh-sungguh.  “Jalankan tertib sampah seperti perintah, nanti akan Bapak belikan tiket nonton sepak bola kelas satu!”, tegas pak Adji yang disambut dengan teriakan serentak ketiga anak perempuannya. “Benar ini ya, Pak ?”, tanya mereka ingin meyakinkan dan memastikan bapaknya tidak akan berbohong.

Ketika penimbangan yang sudah kesekian kalinya, pak Adji mengajak serta ketiga putrinya. Kebetulan Ketua RW 03 ada di tempat penimbangan itu bersama pengurus yang lain dan sejumlah warga yang juga peserta Bank Sampah. Ketika menyambut kedatangan pak Adji, Ketua RW 03 berucap :”Nah, beginilah seharusnya. Seluruh warga mestinya meniru pak Adji dalam menyukseskan program pemerintah untuk memerangi sampah”. Sambil didengar juga oleh ketiga putri pak Adji, Ketua RW 03 mengungkap bahwa warga yang lain  banyak yang malu-malu. Tetapi Pak Adji mempunyai pendapat lain. Dia mencoba memberikan saran kepada Pengurus RW 03. “Bukannya malu-malu, Pak. Kelihatannya banyak orang yang mengalami kesulitan untuk membawa sampahnya kemari. Hanya yang punya kendaraan, sepertinya yang rajin menyetor sampahnya secara rutin. Bagaimana kalau seandainya Pengurus RW 03  mengusahakan mobil kecil pengangkut sampah atau sejenis becak-motor, untuk menjemput sampah ke seluruh warga. Tentunya, warga sudah diajari cara memilahnya!”, saran pak Adji dengan penuh semangat.

Setelah proses penimbangan selesai, pak Adji mengajak ketiga putrinya menemui bagian administrasi, menanyakan jumlah tabungan yang sudah terkumpul selama ini. Ketiga anak pak Adji kaget, hampir tidak percaya. Karena ternyata besar tabungannya cukup banyak dan bisa diambil untuk membeli tiket sepak bola kelas satu. Mereka pulang dengan sukacita . Lapor kepada ibunya, bahwa sampah yang akan membayar tiket menonton sepak bola ketika Korea Selatan bertanding di Stadion Wibawamukti Bekasi. Sambil mengibas-kibaskan uang yang baru saja ditarik dari Bank Sampah, sejak itu mereka berjanji akan menjalankan tertib sampah di rumah dengan bersungguh-sungguh.

       Mereka pergi bertiga ke Stadion Wibawamukti untuk menonton pertandingan sepak bola antara Korea Selatan melawan Uni Emirat Arab. Sengaja berangkat lebih awal, takut kalau macet dan ramai penonton karena di kawasan Bekasi banyak perusahaan milik pengusaha Korea Selatan. Tetapi juga karena berharap bisa melihat dari dekat para pemain sepak bola Korea Selatan. Mereka juga ingin sekali bisa mengambil foto dengan para pemain sepak bola Korea Selatan.

Pulang sudah larut malam karena mereka naik grab yang susah memesannya. Pak Adji dan isterinya walaupun memantau setiap jam melalui gawai, tetapi tetap saja penuh kekhawatiran dan sabar menunggu sampai larut malam. Sesampai di rumah, mereka meluapkan kegembiraannya yang bukan alang-kepalang. Menunjukkan foto-foto karena bisa berhasil merangsek ketika bus yang membawa para pemain Korea Selatan tiba di stadion. Ketika masing-masing menunjukkan tas ransel bawaannya yang kelihatan berisi penuh, dikiranya bawa oleh-oleh, ternyata mereka hanya membawa pulang sampah. Kertas, plastik dan botol bekas minuman yang sudah menjadi sampah mereka bawa pulang semua. “Lho, kamu memunguti sampah di stadion, ya?”, tanya ibunya keheranan. “Tidak, Bu, ini sampah pribadi selama jajan di stadion, kita amankan dan rawat baik-baik, tidak membuang sembarangan  seperti orang-orang lain yang kurang beradab. Kalau boleh sih, wah banyak sekali sampah di stadion. Apalagi para supporter Korea Selatan sangat tertib sampah. Semua sampah mereka dikumpulkan di plastik-plastik besar yang agaknya sudah dipersiapkan sebelumnya. Tapi ini sampah sendiri lho Bu, bukan hasil memungut!”, jelas si bungsu kegirangan karena keinginannya terkabul. “Berarti, satu pelajaran yang kalian dapat dari menonton sepak bola ini, bahwa orang Korea Selatan itu, siapa saja, kapan saja, di mana saja dan dalam suasana apapun, mereka selalu menerapkan tertib sampah dan berbudaya bersih. Kalian harus mencontoh dan mengikuti adat yang baik itu dan kalau bisa tularkan juga kepada orang lain. Ajaran kita juga menyebut, bahwa kebersihan itu setengah daripada iman, dan anjuran menabunglah sedikit demi sedikit. Menabunglah dari sampah yang kalian hasilkan dengan telaten dan rajin. Dan patut kalian renungkan, ternyata bangsa yang mampu menjaga kebersihan, bisa menjadi bangsa yang maju dalam segala hal !”, celetuk pak Adji bagaikan menyampaikan khutbah di tengah malam. Sebelum pergi mandi dan bebersih diri, mereka sempatkan merapikan sampah yang mereka bawa sesuai kelompoknya. “Wah, mereka agaknya sudah semakin sadar tertib sampah dan mendukung keberadaan Bank Sampah, Bu”, bisik pak Adji kepada isterinya sambil menahan kantuk karena hari sudah larut malam.

Dan ternyata, memang seluruh anggota keluarga pak Adji sejak saat itu mulai rajin melakukan tertib sampah dengan penuh kebersamaan, sukacita, kompak dan bersungguh-sungguh.*****

 

Bekasi, Juli 2021

Kamis, 19 Agustus 2021

Memfilmkan Legenda, Kenapa Tidak?

Beberapa tahun yang lalu sebagaimana diberitakan di berbagai media massa, Menteri Kebudayaan & Pariwisata waktu itu, memberikan semacam instruksi kepada para Kepala Daerah. Dianjurkan agar tiap daerah provinsi membuat film kepahlawanan daerahnya masing – masing. Tujuannya mungkin untuk menumbuhkan nilai – nilai kejuangan kepada generasi muda yang sudah ada tanda – tanda mulai terkikis. Atau mungkin dalam rangka meningkatkan  upaya pelestarian nilai seni budaya  setiap daerah serta untuk meningkatkan pariwisata melalui film.

Padahal, kalau ambisi itu dituruti, yang terjadi adalah mungkin merupakan langkah yang sia – sia. Jauh panggang dari api, kata pepatah. Sebagai pengalaman mungkin dapat dievaluasi, misalnya,film “Tjut Nyak Dien” yang pernah dibuat dengan ambisius, tetapi nyatanya kurang  peminat. Dari berbagai sudut, film itu kurang menarik. Apalagi setiap film sejarah Indonesia, yang menonjol hanyalah yang berbau melawan penjajah Belanda atau Jepang, dan kemasannya pada umumnya kurang menarik.

Film menarik adalah film yang bisa menarik penonton sebanyak-banyaknya walaupun tanpa promosi yang berarti. Film menarik bisa karena bintang pendukungnya, alur ceritanya, teknik pembuatannya, lokasi shooting atau  bisa karena keseluruhannya menarik. Sebagai contoh, film Laskar Pelangi yang pernah mencapai Box Office beberapa waktu yang lalu. Film itu menarik karena menyangkut penggalan sejarah pendidikan suatu zaman dan lokasinya yang menarik. Disamping penggarapannya juga cukup mengesankan. Lebih menarik lagi karena terbukti kepulauan Bangka-Belitung sebagai lokasi shooting film tersebut kemudian dibanjiri banyak turis (Rakyat Merdeka 2 Mei 2010).

FILM TENTANG LEGENDA

Sekiranya benar bahwa film daerah ditujukan untuk meningkatkan sektor pariwisata melalui pengenalan seni dan budaya daerah, maka yang tepat adalah menginstruksikan setiap daerah untuk membuat film tentang legenda daerah. Legenda menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia (Balai Pustaka 2006) adalah cerita dari zaman dahulu yang dikenal dan digemari orang yang bertalian dengan peristiwa bersejarah.

Legenda itu bisa diambil dari ikon alam atau seni budaya masing – masing daerah . Sebagai contoh, Reog Ponorogo atau Gunung Bromo dari Jawa Timur,betapa menariknya apabila legendanya yang penuh misteri itu  difilmkan. Boleh jadi, Reog Ponorogo tidak  akan diklaim oleh Malaysia sekiranya legendanya di filmkan secara kolosal. Atau turis akan semakin berbondong – bondong datang setelah menyaksikan film tentang legenda Gunung Bromo yang menawan dengan legenda Hari Raya Kesodonya.

Sebagai contoh menarik, pernah ada film pada tahun 70’an yang dibuat oleh sebuah negara Asia berjudul “The Snake Man”(manusia ular). Film itu tentang legenda terjadinya sumber mata air pemandian alam yang antara lain berkhasiat dapat menyembuhkan penyakit kulit dan pernah memenangkan Festival Film Asia. Cerita dalam film itu sebenarnya sederhana saja karena menceritakan tentang seorang wanita yang sudah bersuamikan lelaki yang pencemburu, berselingkuh dengan seekor ular sakti .Hasil perselingkuhan yang tidak diniati itu membuahkan  seekor ular sakti yang kemudian bisa menjelma menjadi pemuda tampan  setelah bertapa di suatu pegunungan yang terdapat danau yang indah. Film tersebut berbau pornografi, tetapi tidak menonjolkan adegan pornografinya. Berbau mistik karena mengandung hal – hal yang menyangkut pertapaan dan kesaktian tetapi menariknya, dalam penggarapannya tidak menampakkan adegan horor yang menyeramkan. Episode demi episode semuanya menarik karena menggambarkan adegan yang mengesankan dengan  latar belakang alam dan kehidupan yang benar-benar menggambarkan zaman baheula. Happy ending film tersebut mengetengahkan suatu objek pariwisata yang sangat terkenal di suatu daerah di negara pembuat film  yang berupa lokasi pemandian alam yang indah dan masih ramai dikunjungi para turis sampai sekarang. Paling tidak ,sampai film tersebut dibuat, obyek pariwisata itu masih dipertahankan. Dan sudah dapat dipastikan, pemerintah serta masyarakatnya berusaha melestarikan obyek pariwisata tersebut dengan bukti pembuatan film legendanya yang berhasil diekspor ke berbagai negara 

Mungkin waktunya belum terlambat. Industri pariwisata dan ekonomi kreatif Indonesia bisa dikembangkan sebagai sokoguru perekonomian Indonesia melalui pembuatan film tentang legenda. Indonesia yang kaya akan objek wisata yang sangat menarik dan hampir semuanya mempunyai legendanya masing – masing,  mestinya juga sangat menarik apabila dituangkan ke dalam sebuah film layar lebar. Bahkan hewan komodo yang ada di pulau Komodo pun ada legendanya yang bisa digali untuk dibuatkan filmnya. Menurut penuturan penduduk setempat, kalau kita ke P.Komodo sebaiknya  dikawal oleh penduduk asli setempat. Tujuannya agar tidak dimangsa oleh hewan komodo yang termasuk binatang buas. Pengamanan itu bisa terjadi karena hewan komodo diyakini masih seketurunan dengan penduduk asli P.Komodo. Konon pada zaman dahulu kala, hidup seorang raja yang mempunyai seorang putri yang cantik jelita. Kehidupan kerajaan dibiayai dari pajak yang dibayar oleh rakyatnya sesuai bidang usahanya. Adalah seorang perjaka tampan yang selalu mengirim ikan sebagai pajak mewakili ayahnya yang berprofesi sebagai nelayan. Karena seringnya bertemu pandang dengan anak nelayan yang tampan itu, membuat putri raja jatuh hati. Begitu juga anak nelayan tiba-tiba jatuh cinta. Karena gayung bersambut, maka semakin rajinlah anak nelayan itu mengantar pajak ikan ke istana agar bisa sering bertemu dengan putri raja. Rumor percintaan dua insan beda status sosial ini akhirnya sampai juga ke telinga sang raja. Sebagai akibatnya, sang raja melarang hubungan putrinya dengan anak nelayan tersebut. Tetapi tetap saja dengan sembunyi-sembunyi sang putri berusaha menemui sang perjaka. Sang raja semakin garang menghalangi hubungan keduanya dengan berbagai macam cara. Puncaknya, sang putri malah diam-diam lari dari istana dan bersembunyi di suatu goa bersama sang anak nelayan. Sang raja saking murkanya, terucap sumpah-serapah dan tidak mau  mengakui lagi putrinya tersebut. Dari hubungan yang tidak direstui itulah kemudian lahir komodo seperti wujudnya sekarang ini. Nah, seandainya legenda keberadaan hewan komodo ini digubah dan difilmkan secara cerdas dan menarik, bukan mustahil  akan semakin meningkatkan kunjungan wisatawan ke P.Komodo dan Kawasan Labuan Bajo yang sudah ditetapkan sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas, Dan tak kalah pentingnya adalah ikut membantu Pemerintah RI dalam memperjuangkan Taman Nasional Komodo sebagai salah satu dari Tujuh Keajaiban Alam (New 7 Wonder s of Nature). Demikian juga Danau Toba di Sumatera Utara yang indah dan Danau Tiga Warna Kelimutu di pulau Flores serta legenda Candi Prambanan di Jawa Tengah dan banyak lagi, menunggu kreativitas para seniman dan budayawan Indonesia untuk menciptakan filmnya. Apabila upaya memfilmkan legenda  ini terwujud,dan menarik penggarapannya, bukan mustahil akan tercapai ”sekali merengkuh dayuh, dua tiga pulau akan terlampaui”. Artinya, melalui pembuatan film yang brilian tentang legenda, bersamaan dengan itu dapat meningkatkan mutu dan pendapatan sektor perfilman serta diharapkan dapat meningkatkan sektor pariwisata dan pertumbuhan ekonomi. Dan tak kalah pentingnya adalah timbulnya kesadaran peningkatan upaya pelestarian warisan alam ,lingkungan dan seni budaya yang dimiliki bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Dengan demikian diharapkan akan semakin memperkenalkan INDONESIA  lebih luas lagi, dan tidak hanya sekedar  P.Bali seperti sekarang ini yang lebih terkenal dibanding negeri induknya. Dari pada membuat film yang aneh-aneh dan tidak laku seperti  beberapa tahun terakhir ini, lebih baik kita  berpaling ke cerita legenda yang berlatar belakang obyek pariwisata. Mari kita coba buktikan, siapa tahu setiap daerah akan berusaha menggali bakat serta kreativitas di kawasannya masing-masing!.*****.

 


Senin, 16 Agustus 2021

negeri sampah

 

Ada sebuah negeri antah berantah

Dikenal dengan Negeri Sampah

Karena di mana-mana sampah melimpah

Tumpah ruah dan mbrarah di segala arah


 Di daratan, laut dan sungai, serta di udara

 Berhamburan sampah aneka rupa

 Sampai yang tersangkut di kabel-kabel

 Bangkai layang-layang nampak berjubel


Di negeri banyak sampah

Manusianya buang sampah tanpa jengah

Asal lempar di segala tempat tanpa adab

Banjir di mana-mana karena sampah jadi penyebab

                              

Di negeri banyak sampah

Manusianya berebut pangkat dan jabatan dengan serakah

Tetapi tidak paham membuat negeri jadi indah

Karena tidak mengerti bagaimana cara menangani sampah


Di negeri banyak sampah berserakan

Semua daerahnya pernah punya semboyan

Ada yang bunyinya “ Tegar Beriman “

Dan aneka kata semboyan yang dipajang di jalan-jalan

 

Nyatanya, semboyan tinggal semboyan

Walau terucap pada setiap acara dan keramaian

Namun tidak ada yang mampu mengubah keadaan

Karena semboyan dicipta hanya asal-asalan


Ada lagi yang namanya penghargaan Adipura

Diplesetkan menjadi “ajang dusta, intrik dan pura-pura”

Karena yang pernah dapat, tetap saja kumuh dan tidak tertata

Terbukti, Adipura cuma ajang formalitas dan hura-hura

                                

Itulah hikayat sebuah Negeri Sampah

Yang sebetulnya gemah ripah dan kaya raya

Karena kekayaan alamnya yang melimpah

Tetapi merana karena koruptor dan penjarahnya merajalela


Di negeri bersimbah sampah

Banyak menghasilkan pemimpin kelas sampah

Mereka berebut kekuasaan dan jabatan dengan berbagai cara

Pada hal setelah memperoleh, karya apa yang dihasilkan, coba?*****


Bekasi, Agustus 2021